04 Januari 2011

Taqwa

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim." (QS. 3:102)
 
Taqwa adalah salah satu istilah kunci dalam Al-Qur`an. Namun tidak terlalu mudah untuk memaparkan arti taqwa. Umumnya taqwa didefinisikan sebagai "takut pada Allah" (atau "God-fearing") yang ditandai dengan menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan semua perintah-Nya. Namun dalam Al-Qur`an, kata takut telah memiliki padanan, yaitu "khasyiya" dan "khawf".
 
"Dan hendaklah orang-orang takut (khasyyah) seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. 4:9)
 
Nampak bahwa ada nuansa perbedaan antara takut dan taqwa. Taqwa lebih cenderung kepada suatu sikap etika. Orang-orang yang beriman dan mengikuti petunjuk Allah justru akan dijauhkan dari ketakutan atau suasana ketakutan.
 
"... Sesungguhnya akan datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, akan lenyap segala ketakutan (khawf), dan ada pula kesusahan." (QS. 2:38)
 
"Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." (QS. 46:13)
 
Kurang tepat jika taqwa diterjemahkan dengan sesuatu yang mengandung kata "fearing". Hamka justru menyatakan bahwa kata taqwa justru mengandung kesan berani dan melawan takut. Maka akan lebih tepat untuk menafsirkan taqwa sebagai "lurus". Mutaqqi, orang yang bertaqwa, orang yang lurus (righteous) pada jalan Allah. Orang yang tidak menyimpang dari jalan Allah.
 
Di dalamnya, kita akan mendapati sikap menghindari kerusakan, menangkal kejahatan, dan kehati-hatian. Orang yang bertaqwa adalah orang yang memiliki mekanisme datau daya penangkal terhadap penyimpangan yang merusak diri sendiri dan orang lain. Sikap taqwa dibentuk dengan mensucikan diri dan pikiran, seperti yang ditegaskan dalam QS. 91 (As-Syams) berikut :
 
"(1) Demi matahari dan kilaunya, 
 (2) dan bulan apabila mengiringinya, 
 (3) dan siang apabila menampakkannya, 
 (4) dan malam apabila menutupinya, 
 (5) dan langit serta pembinaannya, 
 (6) dan bumi serta penghamparannya, 
 (7) dan jiwa serta Ia (Allah) yang menyempurnakannya, 
 (8) dan mengilhamkan padanya kefasikan dan ketaqwaan, 
 (9) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 
 (10) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. "
 
Sedangkan petunjuk yang diberikan, yang menjadi pegangan menuju ketaqwaan, yang membebaskan dari ketakutan, adalah Al-Qur`an QS 2 (Al-Baqarah) menjelaskan :
 
(1) Alif laam miim. 
(2) Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
(3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, 
(4) dan mereka yang beriman kepada Kitab yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya akhirat. 
(5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. "
 
Maka Prof Usman Muhammady mendefinisikan orang yang bertaqwa sebagai manusia berilmu dan beriman, mampu memelihara diri dari kejahatan, dan memakai Al-Qur`an sebagai pemimpin.
 
Seperti juga iman, taqwa lebih difokuskan pada hubungan manusia dengan Allah. Ketaqwaan didasarkan atas pengakuan diri sebagai hamba Allah, ketaqwaan dijalankan dengan mengacu pada petunjuk Allah. Dan ketaqwaan adalah nilai atau harga manusia dalam pandangan Allah.
 
"... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. 49:13)
 
Namun kenyataan bahwa taqwa lebih terfokus pada hubungan manusia dengan
Allah tidak menjadikan taqwa terpisah dari kehidupan kemanusiaan. Sebaliknya, penerapan taqwa akan sangat terasa dalam sisi kemanusiaan. Misalnya ketaqwaan mendorong untuk bersikap adil, dan menjaga silaturrahim, dan saling berbagi dengan sesama.
 
"... Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa." (QS. 5:8)
 
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. 4:1)
 
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah rang-orang yang bertaqwa." (QS. 2:177)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar