15 Desember 2009

Makalah Kurikulum Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Pendidikan merupakan satu aspek yang penting di dalam kehidupan setiap individu. Pendidikan bermula sejak seorang itu dilahirkan sehinggalah ia menemui ajalnya. Pendidikan bagi manusia meliputi aspek jasmani,rohani, akal dan sosial. “Manusia mendidik anaknya supaya badannya sehat dan kuat, akalnya waras dan cerdas, rohaninya luhur dan berbudi pekerti tinggi, tahu bermasyarakat dan menyesuaikan diri dalam kelompoknya”[1].
Di antara pendidikan yang paling penting bagi setiap manusia ialah pendidikan Islam. ”Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih kepekaan (sensibility) para peserta didik sedemikian rupa sehingga sikap hidup dan peri-laku, juga keputusan dan pendekatannya kepada semua jenis pengetahuan dikuasai oleh perasaan mendalam nilai-nilai etik dan spiritual Islam. Mereka dilatih dan mentalnya didisiplinkan, sehingga mereka mencari pengetahuan tidak sekadar untuk memuaskan keingin-tahuan intelektual atau hanya untuk keuntungan dunia material belaka, tetapi juga untuk mengembangkan diri sebagai makhluk rasional dan saleh yang kelak dapat memberikan kesejahteraan fisik, moral dan spiritual bagi keluarga, masyarakat dan umat manusia”.[2]
Pendidikan Islam mula diberikan kepada kanak-kanak sejak mereka berada di peringkat prasekolah hinggalah ke universiti. Untuk menanamkan ajaran-ajaran Islam di kalangan pelajar-pelajar dengan lebih berkesan, maka satu kurikulum yang lengkap, dikemas dan tersusun rapi serta berkesinambungan amatlah diperlukan.
Oleh itu di dalam rencana ini penulis akan menerangkan mengenai kurikulum yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Kurikulum pendidikan Islam yang dimaksudkan di sini tidak terbatas setakat mempelajari mata pelajaran pengetahuan Ugama Islam sahaja sebagaimana kefahaman kebanyakkan masyarakat hari ini. Tetapi pendidikan Islam itu sebenarnya mempunyai skop jangkauan yang lebih luas meliputi semua cabang ilmu pengetahuan yang dibenarkan oleh agama Islam.

1.2   Rumusan Masalah
a.       Pengertian Kurikulum
b.      Pengertian Pendidikan
c.       Pendidikan Islam
d.      Kurikulum Pendidikan Islam

 BAB II
 PEMBAHASAN
2.1   KURIKULUM
a.       Definisi Kurikulum
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dengan komponen sistem lainnya. Tanpa Kurikulum suatu sistem pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan yang sempurna. Ia merupan ruh (spirit) yang menjadi gerak dinamik suatu sistem pendidikan, Ia juga merupakan sebuah idea vital yang menjadi landasan bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum seringkali menjadi tolok ukur bagi kualitas dan penyelenggaraan pendidikan. Baik buruknya kurikulum akan sangat menentukan terhadap baik buruknya kualitas output pendidiksan, dalam hal ini, peserta didik.
Dalam kedudukannya yang strategis, kurikulum memiliki fungsi holistik dalam dunia pendidikan; Ia memiliki peran dan fungsi sebagai wahana dan media konservasi, internalisasi, kristalisasi dan transformasi ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan nilai-nilai kehidupan ummat manusia.
Dalam Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan lahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Rumusan ini lebih spesifik mengandung pokok - pokok pikiran, sebagai berikut:
a.       Kurikulum merupakan suatu rencana/perencanaan;
b.      Kurikulum merupakan pengaturan, yang sistematis dan terstruktur;
c.       Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran bidang pengajaran tertentu;
d.      Kurikulum mengandung cara, metode dan strategi pengajaran;
e.      Kurikulum merupakan pedoman kegiatan belajar mengajar;
f.        Kurikulum, dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan;
g.       Kurikulum merupakan suatu alat pendidikan.
Rumusan tersebut menjadi lebih jelas dan lengkap, karena suatu kurikulum harus disusun dengan memperhatikan berbagai faktor penting. Dalam undang-undang telah dinyatakan, bahwa:
“Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan.”
b.      Faktor-faktor Penyusunan Kurikulum
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum, ialah:
a.        Tujuan pendidikan nasional, dijabarkan menjadi tujuan-tujuan institusional, dirinci menjadi tujuan kurikuler, dirumuskan menjadi tujuan-tujuan instruksional (umum dan khusus), yang mendasari perencanaan pengajaran.
b.        Perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis yang mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar;
c.         Mengacu pada landasan sosiologis dibarengi oleh landasan kultur ekologis.
d.        Kebutuhan pembangunan nasional yang mencakup pengembangan SDM dan pembangunan semua sektor ekonomi.
e.        Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta budaya bangsa dengan multi dimensionalnya.
f.         Jenis dan jenjang pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya.
  
2.2   Pendidikan
a.       Definisi Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan berperan sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia, sebab pendidikan berpengaruh langsung kepada kepribadian ummat manusia. Pendidikan sangat menentukan terhadap model manusia yang dihasilkannya.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan, mempunyai kedudukan sentral; menentukan kegiatan dan hasil pendidikan. Penyusunannya memerlukan fondasi yang kuat, didasarkan atas hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Kurikulum yang lemah akan mengahasilkan manusia yang lemah pula.
Pendidikan merupakan interaksi manusia pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Interaksi pendidik dan terdidik dalam pencapaian tujuan, bagimana isi, dan proses pendidikan memerlukan fondasi filosofis, agar interaksi melahirkan pengertian yang bijak dan perbuatan yang bijak pula. Untuk mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu dan berpengetahuan yang diperoleh melalui cara berfikir sistematis, logis dan mendalam, secara radikal, hingga keakar-akarnya. Upaya menggambarkan dan menyatakan suatu pemikiran yang sistematis dan komprehensif tentang suatu fenomena alam dan manusia disebut berfikir secara filosofis. Filsafat mencakup suatu kesatuan pemikiran manusia yang menyeluruh.
Pendekatan Ilmu dengan filsafat berbeda, ilmu menggunakan pendekatan analitik, mengurai bagian-bagian hingga bagian yang terkecil. Filsafat mengintegrasikan bagian-bagian hingga menjadi satu kesatuan yang menyeluruh dan bermakna. Ilmu berkaitan dengan fakta-fakta sebagaimana adanya, secara objektif dan menghindari subjektifitas. Filsafat melihat sesuatu secara das sollen (bagaimana seharusnya), faktor subjektif sangat berpengaruh. Tetapi filsafat dan ilmu memiliki hubungan secara komplenter; saling melengkapi dan mengisi. Filsafat memberikan landasan bagi ilmu, baik pada aspek ontologi, epistimologi, maupun aksiologinya.
b.      Jalur Pendidikan
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta.  Berikut adalah beberapa jalur pendidikan formal :
a.       Pendidikan Anak Usia Dini (Taman Kanak-kanak, Raudatul Athfal)
b.      Pendidikan Dasa (Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah)
c.       Pendidikan Menengah Pertama (Sekolah Menengah Pertama, Madrasah Tsanawiyah)
d.      Pendidikan Menengah Atas (Sekolah Menengah Atas, Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan, Madrasah Aliyah Kejuruan)
e.      Perguruan tinggi (Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut, Universitas)
2.3   Pendidikan Islam
Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang seiring dengan kedatangan Islam itu sendiri[3]. Pendidikan Islam berterusan seumur hidup, secara formal dan tidak formal. Ini bererti pendidikan yang berasaskan nilai-nilai Islamiah tidak hanya menghadkan pengajaran akademik dalam bilik darjah. Bimbingan dan asuhan yang dilakukan oleh para pendidik diusahakan setiap masa secara ikhlas bertujuan menjadikan individu beriman dan bertakwa[4].
a.       Definisi Pendidikan Islam
Istilah “Pendidikan Islam” merupakan rangkai kata yang membawa makna yang sangat luas. Dalam ungkapan ini sendiri telah tersirat konsep, falsafah dan matlamatnya. Ini agak berbeza dengan kefahaman umum masyarakat hari ini yang menganggap pendidikan Islam itu ialah Mata Pelajaran Agama Islam atau Pengetahuan Agama Islam di sekolah(Mohd Yusuf Ahmad, 2004).
Untuk memberikan pengertian pendidikan Islam yang sempurna, terlebih dahulu kita menjelaskan makna kata ‘pendidikan’ dan ‘Islam’. Menurut Al-Attas,Hassan Langgulung dan Burlian Somad maksud pendidikan itu ialah perubahan dalaman dan perubahan tingkah laku[5]. Apabila disebut pendidikan Islam ia menjadi lebih khusus dan bermaksud pendidikan yang berteraskan syariat Islam yang berpandukan Al-Quran dan Al-Hadis, dan perubahan yang dikehendaki pula ialah perubahan rohani, akhlak dan tingkah laku menurut Islam.
Dalam bahasa Inggeris istilah pendidikan disebut education. Manakala dalam bahasa Arab pengertian kata pendidikan, sering digunakan pada beberapa istilah, antaranya “ta’lim”, tarbiyah dan ta’dib ). Namun demikian, ketiga kata tersebut memiliki makna tersendiri dalam menunjuk atau menerangkan pengertian pendidikan (Dr. Samsul Nizar,M.A: 2001).
Kata at-ta’lim merujuk kepada pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan keterampilan. Kata at-tarbiyah membawa erti mengasuh, mendidik, dan memelihara. Sementara Kata at-ta’dib dapat diertikan sebagai proses mendidik yang memfokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar. Pendidikan adalah ‘latihan atau ajaran’ (Dr.Teuku Iskandar,1986). Sementara itu menurut al-Quran, Islam ialah penyerahan diri dan kepatuhan sesuai dengan firman Allah swt dalam Surah Ali ‘Imran ayat 83:
افغير دين الله يبغون وله اسلم من فى السموت والارض طوعا وكرها واليه يرجعون
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi,baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”
Ini menunjukkan kepada kita bahawa, pendidikan Islam merupakan usaha-usaha pembentukan anak-anak sesuai dengan ajaran Islam, maka dengan itu melalui pendidikan Islam akan dapat menyerapi dan menyedari hal-hal yang sebenar atau hakikat-hakikat baik dalam ajaran dan amalan Islam, atau apa yang terkandung dalam akidahnya, ibadatnya, sistem akhlaknya dan juga ajaran syariatnya yang dilihat dari segi hukum-hukumnya yang zahir. Ahli-ahli fikir Islam berpendapat bahawa dengan menyedari hal-hal ini semua manusia akan mencapai kebahagiaan dalam dunia dan akhirat.[6]
Akhirnya, dapatlah dibuat kesimpulan bahawa tiada makna yang tepat bagi pendidikan Islam namun dapat difahami oleh semua orang bahawa pendidikan Islam adalah satu usaha untuk mengembangkan fitrah manusia sesuai dengan ajaran agama Islam berlandaskan Al-Quran dan Al-Sunnah yang akhirnya akan mewujudkan satu masyarakat yang bertamadun tinggi, penuh rahmat dan kebahagiaan serta mendapat keridhaan Allah.
b.      Dasar Pendidikan Islam
Dasar adalah tempat bermula sesuatu aktiviti manusia. Maka ketika menetapkan dasar sesuatu perkara, khasnya dasar pendidikan Islam, setiap individu akan menjadikan pandangan hidup dan hukum-hukum dasar agamanya sebagai panduan. Pendidikan Islam adalah satu aktiviti manusia yang mempunyai dasar-dasar tertentu. Adapun dasar pendidikan Islam ialah Al-Quran,Hadith (As-Sunnah) dan Ijtihad para ulama.
c.       Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan adalah dasar yang hendak dicapai dalam semua kegiatan manusia.Tujuan berfungsi untuk mengarahkan, mengendalikan dan mengembangkan sesuatu kegiatan. Oleh sebab itu setiap tujuan hendaklah dirumuskan dengan tegas dan jelas. Dengan adanya tujuan semua aktiviti dan pergerakan manusia akan menjadi terarah dan bermakna.
Kefahaman kita mengenai tujuan hidup di dunia adalah penting untuk menetapkan tujuan pendidikan Islam kerana setiap didikan yang diterima oleh manusia adalah untuk mencapai tujuan hidup tersebut.
Menurut Islam, manusia diturunkan ke bumi oleh Allah swt adalah sebagai seorang khalifah yang mempunyai tugas untuk:
Ø  Memakmurkan bumi demi kebahagiaan hidup seperti firmannya dalam Surah Faathir ayat 39:
هو ا لذ ي جعلكم خلا لف في الارض
artinya: “Dia-lah (Allah) yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”
Ø  Berbakti kepada Allah swt seperti firmannya dalam Surah Adz-Dzaariyaat ayat 56:
و ما خلقت الجن والانس الاليعبدون
artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
Daripada keterangan di atas dapatlah dirumuskan bahwa, “tujuan sejati pendidikan Islam adalah menghasilkan orang-orang yang beriman dan juga berpengetahuan, yang satu sama lain saling menompang. Islam tidak memandang bahawa pencarian pengetahuan adalah demi pengetahuan sendiri tanpa merujuk pada cita-cita spiritual yang harus dicapai manusia, tetapi untuk mewujudkan sebanyak mungkin kemaslahatan bagi umat manusia. Pengetahuan yang diceraikan dari agama bukan hanya membuat pengetahuan menjadi bias, bahkan akan menjadikannya sebagai kejahilan jenis modern. Islam menganggap orang yang tidak beriman kepada Allah swt sebagai orang yang tidak berpengetahuan. Orang semacam ini, betapapun luas pengetahuannya, hanya akan mempunyai pandangan yang tidak lengkap mengenai jagat raya”[7].
Sementara itu menurut Sayid Sabiq (1981) ,tujuan pendidikan Islam ialah agar jiwa seseorang dapat terdidik secara sempurna. Agar seseorang dapat menunaikan kewajipan-kewajipannya kerana Allah. Dapat berusaha untuk kepentingan keluargannya, kepentingan masyarakatnya, serta dapat berkata jujur, dan berpihak kepada yang benar serta mahu menyebarkan benih-benih kebaikan pada manusia. Apabila seseorang mempunyai sifat-sifat seperti itu, bererti ia telah mencapai tingkat orang-orang salih sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, iaitu orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya.
Pendidikan Islam juga bertujuan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari peribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal fikiran, kecerdasan, perasaan dan pancaindera. Oleh kerana itu pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual, imaginasi (fantasi), jasmani, keilmiahannya, bahasanya, baik secara individual maupun kelompok, dan mendorong aspek-aspek tersebut kearah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup.
Sementara itu, menurut hasil Kongres Pendidikan Islam Sedunia Tahun 1980 di Islamabad, menyebutkan bahawa pendidikan Islam haruslah bertujuan mencapai pertumbuhan keperibadian manusia yang menyeluruh, secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Kerana itu, pendidikan harus mencapai pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya; spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah dan bahasa secara individual maupun kolektif. Mendorong semua aspek kearah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Tujuan akhirnya adalah dengan perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara peribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.[8]
Akhirnya dapatlah diambil kesimpulan bahawa tujuan pendidikan Islam itu tidak statik. Ia sering mengalami perubahan mengikut kepentingan dan perkembangan masyarakat di mana pendidikan itu dilaksanakan. Walaupun begitu sebagai umat Islam kita mestilah berpegang teguh dan terus merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah dalam melaksanakan tujuan pendidikan Islam.
2.4   Kurikulum Pendidikan Islam
a.       Definisi Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam adalah bahan-bahan pendidikan Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Atau dengan kata lain kurikulum pendidikan Islam adalah semua aktiviti, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka tujuan pendidikan Islam.
Berdasarkan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam) diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar.
b.      Materi Pokok Dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam meliputi tiga perkara yaitu masalah keimanan (aqidah), masalah keislaman (syariah) dan masalah ihsan (akhlak). Bahagian aqidah menyentuh hal-hal yang bersifat iktikad (kepercayaan). Termasuklah mengenai iman setiap manusia dengan Allah,Malaikat,Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Qiamat dan Qada dan Qadar Allah swt.
Bahagian syariah meliputi segala hal yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berpandukan kepada peraturan hukum Allah dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah dan antara sesama manusia.
Bahagian akhlak merupakan suatu amalan yang bersifat melengkapkan kedua perkara di atas dan mengajar serta mendidik manusia mengenai cara pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketiga-tiga ajaran pokok tersebut di atas akhirnya dibentuk menjadi Rukun Iman,Rukun Islam dan Akhlak. Dari ketiga bentuk ini pula lahirlah beberapa hukum agama, berupa ilmu tauhid, ilmu fiqeh dan ilmu akhlak. Selanjutnya ketiga kelompok ilmu agama ini kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum Islam, iaitu al-Quran dan al-Hadis serta ditambah lagi dengan sejarah Islam.
Sementara itu menurut Dr. Hj. Maimun Aqsa, perkara yang perlu didahulukan dalam kurikulum pendidikan Islam ialah al-Quran, Hadis dan juga Bahasa Arab. Kedua ialah bidang ilmu yang meliputi kajian tentang manusia sebagai individu dan juga sebagai anggota masyarakat. Menurut istilah moden hari ini, bidang ini dikenali sebagai kemanusiaan (al-ulum al-insaniyyah). Bidang-bidangnya termasuklah psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi dan lain-lain. Ketiga bidang ilmu mengenai alam tabie atau sains natural ( al-ulum al-Kauniyyah), yang meliputi bidang-bidang seperti astronomi, biologi dan lain-lain.
Ruang lingkup materi pendidikan Islam sebenarnya ada terkandung di dalam al-Quran seperti yang pernah dicontohkan oleh Luqman ketika mendidik anaknya. Bagi Negara Brunei Darussalam Keluasan ruang lingkup pendidikan Islam tertakluk kepada pihak Kementerian Pendidikan, Kementerian Hal Ehwal Ugama, Jabatan Perkembangan Kurikulum, tingkat kelas, tujuan dan tingkat kemampuan pelajar. Bagi sekolah Arab dan agama khas tentunya mempunyai pembahasan yang lebih luas dan lebih terperinci berbanding sekolah umum. Begitu juga terdapat perbezaan yang jelas di antara peringkat rendah, menengah dan peringkat tinggi dan universiti.
Sedangkan mengenai sistem pengajaran dan teknik penyampaian adalah terserah kepada kebijakan guru melalui pengalamannya dengan cara memperhatikan bahan yang tersedia,waktu serta jadual yang sudah ditetapkan oleh pihak tertentu.
c.       Penyusunan Kurikulum Pendidikan Islam
Di antara perkara yang paling penting di dalam pembentukan setiap kurikulum, tidak terkecuali kurikulum pendidikan Islam, ialah penyusunannya. Untuk penyusunan yang rapi dan berkesan, kerjasama antara pihak sekolah dan pihak penggubal kurikulum amatlah diperlukan. Penyusunan tersebut hendaklah menitikberatkan kesesuaiannya menurut kemampuan pelajar.
Penyusunan kurikulum yang tepat akan membawa manusia semakin hampir kepada Allah. Seterusnya akan melahirkan genarasi manusia “para sahabat” yang intelek, berilmu, beriman dan baramal. Kurikulum yang disusun hendaklah berkesinambungan dari peringkat rendah hinggalah ke peringkat menengah berterusan ke peringkat universiti bersesuai dengan kehendak dan keperluan Negara.
Selanjutnya, oleh karena kurikulum dan pendidikan Islam untuk melahirkan individu yang sempurna, samaada dari segi rohani mahupun jasmani, mata pelajaran dalam kurikulum itu hendaklah bersifat sepadu. Dengan kata lain mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan Islam tidaklah terbatas kepada ilmu-ilmu yang berbentuk teoritis sahaja, baik bersifat naqli mahupun aqli tetapi juga berbentuk praktis, seperti pendidikan jasmani,latihan ketenteraan, teknik, pertukangan, pertanian dan perniagaan. Kurikulum yang semata-mata membekalkan pelajaran yang berbentuk spiritual boleh menyulitkan sesuatu institusi pengajian khususnya dari segi pembangunan material.
  
BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
Berdasarkan kepada rencana yang ditulis ini maka dapatlah penulis membuat beberapa kesimpulan seperti berikut:
a.       Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.
b.      Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum, ialah:
Ø  Tujuan pendidikan nasional, dijabarkan menjadi tujuan-tujuan institusional, dirinci menjadi tujuan kurikuler, dirumuskan menjadi tujuan-tujuan instruksional (umum dan khusus), yang mendasari perencanaan pengajaran.
Ø  Perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis yang mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar;
Ø  Mengacu pada landasan sosiologis dibarengi oleh landasan kultur ekologis.
Ø  Kebutuhan pembangunan nasional yang mencakup pengembangan SDM dan pembangunan semua sektor ekonomi.
Ø  Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta budaya bangsa dengan multi dimensionalnya.
Ø  Jenis dan jenjang pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya.
c.       Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
d.      Pendidikan Islam mencakup keperibadian Muslim dengan cakupan yang khas yang membedakan dari bentuk-bentuk pendidikan yang lain. (Hassan Langgulung,1979). Pernyataan di atas memberi gambaran kepada kita bahwa pendidikan Islam merupakan faktor utama yang paling penting untuk membentuk ketinggian peribadi setiap Muslim. Pendidikan Islam mempunyai tujuan-tujuan dan matlamat-matlamat tertentu yang semata-mata untuk mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dan seterusnya untuk memperolehi keredaan Allah s.w.t.
e.      Kurikulum pendidikan Islam terlalu luas. Ia merangkumi syariah, adabiah, riadhah, akliah dan seluruh penghidupan manusia,perbuatan, tingkahlaku dan amalan. Untuk menghayati  pendidikan Islam ini, maka setiap individu Muslim haruslah memahami terlebih dahulu asas-asas dan konsep yang bertunjangkan akidah Islamiah. Kemudian diikuti dengan akliah ilmu pengetahuan, akhlak dan kesehatan. Pendidikan Islam itu memerlukan amalan dan penghayatan sebab seseorang itu tidak boleh mengamalkan sesuatu perkara tanpa memahaminya terlebih dahulu, khasnya asas-asas pendidikan Islam, seperti mengenal Allah, memahami rukun-rukun iman dan rukun-rukun Islam dan sebagainya (Ustaz Abdul Raof Dalip, 1990). Jelasnya,di dalam pendidikan Islam terkumpul empat bidang utama yaitu pendidikan jiwa, pembersihan rohani, pembentukan akal fikiran yang sehat serta kecergasan tubuh badan.
f.        Kurikulum Pendidikan Islam “bertujuan menanamkan kepercayaan dalam pemikiran dan hati genarasi muda, pemulihan akhlak dan membangunkan jiwa rohani. Ia juga bertujuan untuk memperoleh pengetahuan secara berterusan, gabungan pengetahuan dan kerja, kepercayaan dan akhlak dan penerapan amalan teori dalam hidup” (Muhammad Hamid Al-Afendi & Nabi Ahmed Baloch, 1992)
Akhir kata penulis ingin menyerukan kepada setiap individu agar mengutamakan pendidikan Islam dalam segala aspek kehidupan. Seterusnya di dalam menentukan kejayaan dan keberkesanan pendidikan Islam di setiap peringkat persekolahan maka penyusunan kurikulum pendidikan Islam secara teliti, sistematik sentiasa dikemaskinikan mengikut keperluan masa hendaklah diutamakan. Manakala untuk membuat makalah yang sempurna maka pembentukannya hendaklah melalui kerjasama yang erat semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dengan disokong oleh pihak kerajaan.

DAFTAR PUSTAKA

Abraham Maslow, Psikologi Sains. Teraju. Jakarta. 2004
Abudin Nata, Manajemen Pendidikan-Mengatasi Pendidikan Islam di Indonesia. Media Grafika. Jakarta. 2008
Filsafat Pendidikan Islam. Gaya Media Pratama. Jakarta. 2005
Assegaf Abdurrachman & Suyadi, Pendidikan Islam Madzhab Kritis-Perbandingan Teori Pendidikan Timur dan Barat. Gama Media. Yogyakarta. 2008
Fudyartanto, Ki RBS., Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Global Pustaka Utama. Jogjakarta. 2002
Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2008
Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2008
Sukmadinata, Nana Saodih, Pengembangan Kurikulum-Teori dan Praktek. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2008
Syaiful Sagala, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Alfabeta. Bandung. 2007
Tim Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Manajemen Pendidikan. Alfabeta. Bandung. 2009
Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan. Alfabeta. Bandung. 2007


[1] Musa bin Daia,1986
[2] Syed Sajjad Husain & Syed Ali Ashraf , 2000
[3] Dr.Gamal Zakaria,2002
[4] Kamarudin Hj.Kachar,1989
[5] Mohd Yusuf Ahmad, 2004
[6] Dr. Haron Din & Dr. Sobri Salamon, 1988
[7] Syed Sajjad Husain & Syed Ali Ashraf,2000
[8] Dr. Samsul Nizar,M.A, 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar