29 Mei 2010

Kolonialisme Eropa Terhadap Islam Di Indonesia

Kolonialisme tak selalu berdampak negative pada islam. Pengaruh mereka tidak selalu negative. Tidak sebagaimana yang selalu didengung – dengungkan oleh sebagian kalangan muslim saat ini bahwa kemunduran islam  dikarenakan kolonialisme dimasa silam. Saya akan mencoba merekontruksi sejarah islam di Indonesia dimasa kolonialisme dengan cara melihat masalah itu dari berbagai aspeknya. Tidak hanya dari aspek ideologis, tetapi juga aspek praktis dan aspek institusional. Sering kali kolonialisme belanda dan islam di Indonesia dipersepsi secara antagonistik. Islam adalah anti kolonial dan kolonialisme adalah  anti islam. Meski demikian tidak sedikit berkah yang berdampak positif bagi Islam di Indonesia akibat persentuhannya dengan kolonialisme Belanda. Seperti apa persisnya persentuhan Islam dan Kolonialisme di masa silam? Saya akan mencoba menjabarkannya. Ada banyak karya yang berbicara seputar Islam Indonesia dimasa kolonialisme Belanda, seperti apa wacana yang berkembang seputar relasi Islam dengan kolonialisme?
Dalam kajian Islam, baik di Barat ataupun di Timur Tengah dan juga di Asia Tenggara khususnya Indonesia, wacana yang berkembang adalah relasi Islam dan kolonialisme yang selalu dipersepsikan antagonistik, bermusuhan. Ada anggapan bahwa Islam itu anti kolonial dan kolonialisme itu anti Islam. Sehingga misalnya konsep jihad itu selalu dipahami sebagai gerakan sabilillah. Saya ingin mencoba persepsi negative dimasyarakat tentang kolonialisme. Pemahaman ini yang mendorong saya untuk mengkaji seputar relasi Islam dengan kolonialisme Eropa tersebut. Kita tahu bahwa jaringan ulama Asia Tenggara khususnya Indonesia dengan Timur Tengah memang sangat kuat. Jaringan Haramain (Makkah-Madinah), lebih khusus lagi dengan Universitas Al-Azhar di mesir, yang sangat kuat sekali pada masa itu.
Pengaruh jaringan itu memang sangat penting dan terasa hingga sekarang. Akan tetapi pengaruh Eropa dalam hal ini Belanda dan Inggris, di Asia Tenggara ternyata juga sangat besar. Lebih besar dari anggapan kita selama ini. Ini tentu fakta yang sangat mengagetkan, karena berbeda dengan anggapan mainstream, bahwa ternyata pengaruh belanda dan inggris itu begitu besar. Lantas bagaimana pengaruh yang terbangun pada waktu itu, dalam bentuk positif atau negatif kah? Pengaruh mereka tidak selalu negative, tidak sebagaimana yang selalu didengungkan sebagian kalangan muslim saat ini bahwa kemunduran Islam dikarenakan kolonialis dimasa silam. Kita tahu bahwa aspek institusional itu adalah seperti Institusi pendidikan, ormas-ormas keagamaan, seperti Muhammadiyyah yang kemudian direspon dengan kehadiran Nahdlatul Ulama. Sebelum Muhammadiyyah ada syarikat Islam. Syarikat islam muncul sebagai respon terhadap dekatnya Belanda dengan masyarakat Cina ketika itu. Jadi syarikat Islam ini awalnya adalah organisasi dagang. Tetapi kemudian mereka mengadakan pendidikan dakwah. Kemudian Muhammadiyyah lebih merupakan respon terhadap system organisasi kolonial. Tapi apapun itu, institusi-institusi tersebut tidak akan muncul tanpa ada tantangan. Dan tantangan yang paling besar adalah kolonialisme. Itulah sebabnya konsep Negara bangsa atau nation-state tidak bisa terjadi tanpa kolonialisme.
Konsep nasionalisme adalah hasil dari respon terhadap kolonialisme. Dan itu terjadi tidak hanya di Asia Tenggara, tapi juga di Eropa, Amerika dan Australia. Itu semua adalah respon dari kolonialisme. Dengan konsep Negara-bangsa, kebangsaan dibangun bukan atas dasar kesukuan belaka. Agama itu hanya bagian kecil saja. Apa peran yang dijalankan tokoh-tokoh kolonial masa itu hingga punya pengaruh yang berimbas pada aspek institusional. Mereka mencoba untuk mengatur derah jajahan. Pertama dari aspek pendidikan, kedua dari aspek hokum, dan ketiga kaitanya dengan aspek adat atau budaya local. Menurut saya pengaruh belanda inilah yang membuat islam Indonesia menjadi modernis. Moderenisasi Islam itu tidak aka nada di Indonesia ataupun Malaysia tanpa pengaruh belanda dan Inggris. Jadi kita tidak bisa bicara tentang moderenisasi islam di Indonesia tanpa menyinggung pengaruh Belanda.
Sebagai contoh dalam aspek pendidikan, sebelum kedatangan Belanda, Indonesia hanya mengenal system halaka, sebelum model belajar mengajar dimana ada ustad kemudian murid-murid melingkari sang ustad tadi. Nah, dengan model system pendidikan ala Belanda maka sekarang dikenallah system kelas. Kemudian ada ujian, ada ijasah, dan seterusnya. Ada tingkatan satu, tingkatan dua, yang tidak berdasarkan kitab yang dibaca seperti pada model halaka misalnya. Tapi berdasarkan kurikulum. Jadi pengenalan kurikulum itu sendiri adalah pengaruh dari Belanda. Inilah modernisasi yang terjadi dalam system pendidikan masa itu. Kita tahu bahwa di Indonesia juga ada Pesantren. Apa pengaruh kolonialisme secara lebih jauh terhadap institusi pesantren? Dari system belajar dipesantren system yang digunakan adalah menghafal, memorizing, dengan demikian system belajar yang berlaku adalah text . itupun yang diajarkan adalah dari kitab-kitab traditional klasik. Atau yang sering kita sebut kitab kuning. Dalam perkembangannya, sebagian pesantren mencoba ingin menambah dan merubah cara-cara belajar mereka. Pesantren kemudian mengadopsi system kolonial ini yang mereka sebut dengan madrasah.
Selain itu ada juga aspek hukum pada masa kolonial dan aspek hukum lokal. Pada waktu itu hukum kolonialisme Belanda terkodifikasi dengan baik. Dan hukum adat juga dikodifikasi dengan baik oleh Belanda. Tokoh-tokoh Islam di Indonesia mencoba merespon dengan mengkodifikasi juga hukum-hukum Islam. Sebagian tokoh ahli fikih di Indonesia mencoba mengkodifikasi, misalnya hukum-hukum dari mazhab Syafi’i. tidak heran jika kita temukan kompilasi hukum Islam pada zaman sekarang. Inilah respon tidak langsung dari kompilasi-kompilasi sejenis yang dilakukan oleh belanda sebelumnya. Dan juga hukum adat saat itu sebagian sudah dipengaruhi oleh hukum Islam. Misalnya dalam konteks Islam di Sumatera Barat terkenal adagium, adat basandi kitabullah.

Dalam hal Ideologi kaitannya dengan kolonialisme mereka memiliki perbedaan. Motiv awal mereka murni ekonomi dan peradaban. Karena mereka ingin mencari rempah-rempah dan misi memperadabkan orang-orang yang mereka jajah. Namun pada perkembangannya Belanda melakukan intervensi. Misalnya pemisahan antara Islam agama dengan Islam politik. Maka bila ada gerakan Islam politik harus dibumi hanguskan. Maka dalam hal ini bahwa kolonialisme berpengaruh secara tidak langsung terhadap perkembangan konservatisme Islam di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar