12 Desember 2009

Makalah Puasa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pembahasan puasa sangat penting untuk dimunculkan. Mengingat banyaknya problematika / permasalahan yang terjadi di masyarakat. Pertama dikalangan sosial yang mempunyai cita-cita modern. Karena itu kita sebagai generasi muda islam dituntut untuk memahami suatu hukum dengan secara hati-hati karena dewasa ini kita telah tahu non muslim telah menggunakan hal tersebut menjadi senjata ampuh untuk menyesatkan syariat Islam dan mengotori kesucian Al-Qur’an.
Meraka melancarkan tuduhan, pelecehan dan sebagainya terhadap syariat islam. sehingga kaum muslim terkecoh terhadap celaan-celaan terhadap syariat islam mengakibatkan banyak yang mengingkari adanya puasa dan membantah terhadap suatu kebenaran. Oleh karena itu, pandang kami perlu untuk menyusun sebuah makalah yang membahas tentang puasa serta permasalahannya dan manfaat-manfaat bagi orang muslim.
1.2  RUMUSAN MASALAH
Dengan mempelajari puasa ini agar memahami pengertian, hukum, dan hikmah dalam menjalani kewajiban puasa.
  1. Pengertian Puasa
  2. Macam macam Puasa
  3. Syarat, Rukun dan Sunat Puasa
  4. Hal-hal yang membatalkan Puasa
  5. Orang-orang yang diijinkan berbuka puasa
  6. Hikmah berpuasa
  
BAB II
PEMBAHASAN

I.          Pengertian Puasa
Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Seperti yang ditunjukkan oleh firman Allah, surat Maryam ayat 26 :
“Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, bahwasanya aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”. (Q.S. Maryam : 26)
Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari dengan memakai niat tertentu. Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya’ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya’ban. Sesuai dengan hadits Nabi SAW.
“Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari”.
Ada pula Rasulullah S.A.W bersabda ;
“Telah berfirman Allah ‘Azza wajalla; “Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu adalah untukKu[1] dan Aku akan memberinya ganjaran[2]”.
Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sedangkan secara terminologi, adalah menahan diri pada siang hari dari berbuka dengan disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Detailnya, puasa adalah menjaga dari pekerjaan-pekerjaan yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum, dan bersenggama pada sepanjang hari tersebut (sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa diwajibkan atas seorang muslim yang baligh, berakal, bersih dari haid dan nifas, disertai niat ikhlas semata-mata karena Allah ta’aala.
Adapun rukunnya adalah menahan diri dari makan dan minum, menjaga kemaluannya (tidak bersenggama), menahan untuk tidak berbuka, sejak terbitnya ufuk kemerah-merahan (fajar subuh) di sebelah timur hingga tenggelamnya matahari. Firman Allah SWT :
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (Q.S. Al-Baqarah : 187)
Ibn’ Abdul Bar dalam hadits Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Bilal biasa azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kamu sampai terdengarnya azan Ibn Ummi Maktum”, menyatakan bahwa benang putih adalah waktu subuh dan sahur hanya dikerjakan sebelum waktu fajar.

II.       Macam-Macam Puasa
2.1  Puasa Wajib
a.       Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu dari pada Rukun Islam. Syariat puasa Ramadhan difardhukan kepada umat Muhammad s.a.w. pada tahun ke-2 Hijrah. Makanya, wajiblah ia dilakukan oleh semua orang Islam.
b.      Puasa Kifarah.
c.       Puasa Nazar.
2.2  Puasa Sunat
Hari-hari berikut disunatkan berpuasa bagi umat Islam:
a.       Puasa enam hari pada bulan Syawal
b.      Puasa pada Hari Arafah pada 9 Zulhijjah
c.       Puasa pada Hari Asyura pada 10 Muharam
d.      Puasa pada Hari Isnin dan Khamis

2.3  Puasa Haram
a.       Puasa pada Hari Syak pada hari 30 Syaaban
b.      Puasa pada Hari Raya Aidil Fitri pada 1 Syawal
c.       Puasa pada Hari Raya Aidil Adha pada 10 Zulhijjah
d.      Puasa pada Hari Tasyrik pada 11, 12, 13 Zulhijjah
e.       Puasa perempuan haid & Nifas
f.       Puasa sunat seorang perempuan tanpa izin suaminya
g.      Puasa bagi orang yang bimbang berlakunya mudharat ke atas dirinya kerana berpuasa
h.      Puasa untuk orang lain dan yang ghaib serta tidak diniatkan kepada Allah SWT

III.    Syarat, Rukun Dan Sunat Puasa
3.1  Syarat Puasa
Dibawah ini adalah syarat-syarat orang-orang Islam yang diwajibkan berpuasa :
a.       Orang Islam
b.       Berakal - tidak sah jika gila atau kanak2 belum mumayyiz
c.        Suci daripada haid dan nifas
d.       Dalam waktu yang dibolehkan berpuasa, yaitu bukan dalam tempoh haram puasa.
e.        Berakal/waras
f.        Baligh (cukup umur)
g.        Mampu/tidak uzur.
3.2  Rukun Puasa
Rukun puasa ada dua,yaitu:
a.       Berniat pada malam harinya
b.      Menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

3.3  Sunat Puasa
Perkara-perkara berikut disunatkan ketika berpuasa:
a.       Makan sahur serta melambatkannya
b.      Menyegerakan berbuka dan sunat berbuka dengan buah kurma atau benda-benda yang manis atau air
c.       Menjamu orang-orang berbuka puasa
d.      Memperbanyakkan ibadah dan berbuat kebaikan.

IV.    Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa
Berikut ini adalah hal-hal yang akan membatalkan puasa jika terjadi:
  1. Makan dan minum dengan sengaja walaupun pada nilaian dan kadaran yang sedikit pun,seperti memakan saki baki makanan kecil yang terlekat pada celah gigi dan lain-lain lagi.
  2. Muntah dengan sengaja
  3. Bersetubuh atau keluar air mani dengan sengaja
  4. Keluar darah haid atau nifas
  5. Gila (hilang akal)
  6. Pitam(termasuk pingsan) atau mabuk sepanjang hari.
  7. Merokok disiang hari.(Termasuk menghisap ganja)
  8. Murtad (keluar dari Islam)
  9. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga terbuka seperti menyembur pewangi atau menyegar mulut dan sebagainya. Larangan ini tidak termasuk memasukkan air atau udara kedalam rongga terbuka kerana ingin berwuduk atau melegakan kesakitan dan ketidakselesaan pada rongga(dengan syarat air tersebut tidak diminum atau ditelan dengan sengaja).

V.       Orang-Orang Yang Diijinkan Berbuka
Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’ bahwa ia mendengar Ibnu Abbas r.a membaca ayat yang artinya ;
“Bagi orang-orang yang sulit melakukannya, hendaklah mereka membayar fidyah, yakni memberi makan seorang miskin”. (Q.S Al-Baqarah ; 184)
Kata Ibnu Abbas ; “Ayat itu tidaklah dinasakh atau dihapuskan, maksudnya ialah bagi orang tua lanjut usia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah tidak sanggup berpuasa, hendaklah memberi makan seorang miskin untuk setiap hari mereka tidak berpuasa itu.[3]
Dan dibawah ini terdapat kelonggaran (harus) kepada golongan yang berikut diberi keringanan untuk berbuka:
a.       Orang yang sakit.[4]
b.       Orang yang berkerja buruh.
c.        Orang yang dalam musafir (perjalanan).
d.       Orang tua yang sudah lemah.
e.        Orang yang hamil dan ibu yang menyusukan anak.

VI.    Hikmah Berpuasa
Diwajibkannya puasa atas umat Islam mempunyai hikmah yang dalam. Yakni merealisasikan ketaqwaan kepada Allah SWT. sebagaimana yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat 183 :
“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertaqwa”.
Kadar taqwa tersebut terefleksi dalam tingkah laku, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Al-Baqarah ayat 185 :
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”.
Ayat ini menjelaskan alasan yang melatarbelakangi mengapa puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, tidak di bulan yang lain. Allah mengisyaratkan hikmah puasa bulan Ramadhan, yaitu karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan yang diistimewakan Allah dengan menurunkan kenikmatan terbesar di dalamnya, yaitu Al-Qur’an al-Karim yang akan menunjukkan manusia ke jalan yang lurus. Ramadhan juga merupakan pengobat hati, rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai pembersih hati serta penenang jiwa raga. Inilah nikmat terbesar dan teragung. Maka wajib bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat tiap pagi dan sore.
Bila puasa telah diwajibkan kepada umat terdahulu, maka adakah puasa yang diwajibkan atas umat Islam sebelum Ramadhan?
Jumhur ulama dan sebagian pengikut Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada puasa yang pernah diwajibkan atas umat Islam sebelum bulan Ramadhan. Pendapat ini dilandaskan pada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah :
“Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya”.
Sedangkan madzhab Hanafi mempunyai pendapat lain : bahwa puasa yang diwajibkan pertama kali atas umat Islam adalah puasa Asyura’. Setelah datang Ramadhan Asyura’ dirombak (mansukh). Madzhab ini mengambil dalil haditsnya Ibn Umar dan Aisyah ra. : “Diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi SAW. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari)
“Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silahkan berpuasa, jika tidak juga tidak apa-apa”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Pada masa-masa sebelumnya, Rasulullah biasa melakukan puasa Asyura’ sejak sebelum hijrah dan terus berlanjut sampai usai hijrah. Ketika hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa (Asyura’), beliau pun ikut berpuasa seperti mereka dan menyerukan ke umatnya untuk melakukan puasa itu.
Hal ini sesuai dengan wahyu secara mutawattir (berkesinambungan) dan ijtihad yang tidak hanya berdasar hadits Ahaad (hadits yang diriwayatkan oleh tidak lebih dari satu orang).
Ibn Abbas ra. meriwayatkan : “Ketika Nabi SAW sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang melakukan puasa Asyura’, lalu beliau bertanya : (puasa) apa ini? Mereka menjawab : ini adalah hari Nabi Saleh as., hari dimana Allah SWT memenangkan Bani Israel atas musuh-musuhnya, maka lantas Musa as. melakukan puasa pada hari itu. Lalu Nabi SAW berkata : aku lebih berhak atas Musa dari pada kalian. Lantas beliau melaksanakan puasa tersebut dan memerintahkan (kepada sahabat-sahabatnya) berpuasa”. (H.R. Bukhari)
Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah, maka lantas, sebagaimana madzhab Abi Hanifah, kewajiban puasa Asyura’ terombak (mansukh). Sedang menurut madzhab lainnya, kewajiban puasa Ramadhan itu hanya merombak kesunatan puasa Asyura’.

VII. Analisis
7.1  Puasa adalah ketundukan, kepatuhan, dan ketaatan kepada Allah SWT, maka tiada balasan bagi orang yang mengerjakannya kecuali pahala yang berlimpah ruah dan baginya hak masuk surga melalui pintu khusus bernama ‘Ar-Rayyan’. Orang yang berpuasa juga dijauhkan dari azab pedih serta dihapuskan seluruh dosa-dosanya yang terdahulu. Patuh kepada Allah SWT berarti meyakini dimudahkan dari segala urusannya karena dengan puasa secara tidak langsung kita dituntun untuk bertaqwa, yaitu mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Sebagaimana yang terdapat pada surat Al-Baqarah : 183, yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu untuk berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa”.
7.2  Berpuasa juga merupakan sarana untuk melatih diri dalam berbagai masalah seperti jihad nafsi, melawan gangguan setan, bersabar atas malapetaka yang menimpa. Bila mencium aroma masakan yang mengundang nafsu atau melihat air segar yang menggiurkan kita harus menahan diri sampai waktu berbuka. Kita juga diajarkan untuk memegang teguh amanah Allah SWT, lahir dan batin, karena tiada seorang pun yang sanggup mengawasi kita kecuali Ilahi Rabbi.
7.3  Adapun puasa melatih menahan dari berbagai gemerlapnya surga duniawi, mengajarkan sifat sabar dalam menghadapi segala sesuatu, mengarahkan cara berfikir sehat serta menajamkan pikiran (cerdas) karena secara otomatis mengistirahatkan roda perjalanan anggota tubuh. Lukman berwasiat kepada anaknya :
“Wahai anakku, apabila lambung penuh, otak akan diam maka seluruh anggota badan akan malas beribadah”.
7.4  Dengan puasa kita diajarkan untuk hidup teratur, karena menuntun kapan waktu buat menghidangkan sahur dan berbuka. Bahwa berpuasa hanya dirasakan oleh umat Islam dari munculnya warna kemerah-merahan di ufuk timur hingga lenyapnya di sebelah barat. Seluruh umat muslim sahur dan berbuka pada waktu yang telah ditentukan karena agama dan Tuhan yang satu.
7.5  Begitupun juga menumbuhkan bagi setiap individu rasa persaudaraan serta menimbulkan perasaan untuk saling menolong antar sesama. Saling membahu dalam menghadapi rasa lapar, dahaga dan sakit. Disamping itu mengistirahatkan lambung agar terlepas dari bahaya penyakit menular misalnya. Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah kamu supaya sehat”.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa puasa mempunyai manfaat-manfaat yang tidak bisa kita ukur. Karenanya bersyukurlah orang-orang yang dapat mengerjakan puasa. Sebagaimana Kamal bin Hamman berkata, “Puasa adalah rukun Islam yang ketiga setelah syahadat dan salat, disyariatkan Allah SWT karena keistimewaan dan manfaatnya seperti : ketenangan jiwa dari menahan hawa nafsu, menolong dan menimbulkan sifat menyayangi orang miskin, persamaan derajat baik itu fakir atau kaya”.
Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sedangkan secara terminologi, adalah menahan diri pada siang hari dari berbuka dengan disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Puasa dibedakan menjadi beberapa macam yaitu :
a.       Puasa Wajib
b.      Puasa Sunah
c.       Puasa Haram
Setiap orang islam yang akan melakukan ibadah puasa, haruslah sesuai dengan Syarat-syarat puasa, rukun puasa dan ada juga yang disunahkan dalam berpuasa. Disamping itu harus juga memperhatikan hal-hal yang membatalkan puasa.
Pahala puasa amat besar. Orang yang meninggalkan puasa wajib dengan sengaja, bukan saja telah melakukan satu dosa besar, bahkan dia mengalami satu kerugian yang amat besar, satu hari puasa yang ditinggalkan tersebut tidak boleh ditebus dengan apa jua cara, tidak boleh ditukar ganti, sekalipun orang yang meninggalkannya berpuasa seumur hidupnya. Ini jelas sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam: Maksudnya: “Sesiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (uzur syarak) dan tidak juga kerana sakit, dia tidak akan dapat menggantikan puasa yang ditinggalkannya itu, sekalipun dia berpuasa seumur hidup.” (Hadis riwayat Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).


DAFTAR PUSTAKA

Abu Zahrah, Muhammad, Ushul Al-Fiqh, Cairo, Dar Al-Fikr Al-Arabiy, 1957.
Abu Zeid, Farouk, Dr. Al-Syari’ah Al-Islamiyah Bayna Al-Muhafizina Wa Al-Mujahidin, Cairo, Dar Al-Waqf, tt.
Al-Amidiy, Saif Al-Dien Abi Hasan Ali Ibn Ali, Al-Ihkam Fi Ushul Al-Ahkam, Cairo, Muassasah Al-Halabim, 1967
Al-Jaziriy, Abd Al-Rahman, Kitab Al-Fiqh Ala Mazahib Al-Arba’ah, Mesir, Mathba’ah Tijariyah Al-Kubra, tt
Sabiq, Al-Sayid, Fiqh Al-Sunnah, Beirut, Dar Al-Kitab Al-Aribiy, 1971
Syarifuddin, Amir, Prof. Dr. Garis-Garis Besar Fiqh, Jakarta, Prenada Media, 2003



[1] Dikatakan untuk Allah adalah sebagai Penghargaan
[2] Hadits ini adalah Hadits Qudsi
[3] Menurut Madzhab Malik dan Ibnu Hazmin mereka tidak perlu mengkadha, tidak pula membayar
   fidyah
[4] Hal ini dapat diketahui berdasarkan pengalaman, nasihat dokter ahli atau dugaan keras

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar