Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

09 November 2010

Hanya Lima Puluh Menit Dalam Sehari

Oleh Ustadz Said Yai dkk. di UIM


Ibadah yang amat mulia itu merupakan benang merah antara seorang hamba dan Rabb-nya. Ibadah yang sangat agung itu bagaikan sehilir sungai jernih yang mensucikan noda-noda dosa seorang hamba yang rajin mandi di dalamnya. Ya, dialah shalat lima waktu.



Namun demikian, meskipun ibadah yang satu ini memiliki keutamaan “segudang”, namun amat menyedihkan karena di akhir zaman ini, banyak orang yang melalaikannya, termasuk sebagian penduduk tanah air kita tercinta. Seolah-olah meninggalkan shalat bagaikan suatu kebiasaan yang lumrah dan dosa yang sepele.


Jika kaum muslimin sekarang ini diiming-imingi untuk melakukan perbuatan dosa, seperti: membunuh, merampas kehormatan wanita, mencuri atau meminum minuman keras, niscaya kebanyakan dari mereka akan menolak mentah-mentah untuk melakukannya, dengan alasan perbuatan tersebut adalah dosa yang sangat besar.

Sadarkah mereka bahwa dosa meninggalkan shalat lima waktu jauh lebih besar dari semua perbuatan dosa besar di atas?



Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



« الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ »



Artinya: “Perjanjian antara kita (kaum muslimin) dengan mereka (kaum musyrikin) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir”. (HR. Imam At-Tirmidzi no. 2621 dan di-shahih-kan oleh Syaikh al-Albani).



Ini menunjukkan bahwa dosa orang yang meninggalkan shalat jauh lebih besar dari perbuatan-perbuatan dosa yang telah disebutkan di atas.



Dalam kondisi apapun seorang muslim dituntut untuk mengerjakan shalat, baik itu dalam keadaan sakit parah, perjalanan jauh, peperangan ataupun kondisi susah lainnya.



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:



“Peliharalah shalat-shalatmu dan (peliharalah) shalat Ashar. Dan berdirilah karena Allah dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah: 238).



Hanya saja, di dalam beberapa keadaan, Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan berbagai dispensasi (keringanan) kepada para hamba-Nya untuk mengerjakannya dengan tata cara yang lebih ringan, namun bukan untuk meninggalkannya secara total. Dalam keadaan sakit yang parah misalnya; kita diperkenankan untuk shalat sambil duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring sebelah kanan, jika tidak mampu maka dengan terlentang, dan jika tidak mampu pula maka cukup dengan isyarat tangan atau mata.



Begitu pula dalam perjalanan jauh; kita diperkenankan, bahkan disunahkan untuk meng-qashr (meringkas) shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Begitu pula, kita diperbolehkan -jika dibutuhkan- untuk men-jama’ (menggabungkan) shalat Dzhuhur dengan ‘Ashr atau Maghrib dengan ‘Isya’ di salah satu waktu dari dua waktu shalat tersebut.



Banyak sekali keringanan-keringanan yang telah Allah berikan pada kita. Pendek kata, kewajiban shalat tidak akan gugur dari diri seorang hamba, kecuali di saat dia telah dikafani dan disalati oleh kaum muslimin.



Kalau kita mau jujur, seandainya dalam satu kali shalat saja minimal kita membutuhkan sepuluh menit, lalu kita kalikan lima kali waktu shalat, hasilnya hanyalah lima puluh menit. Subhanallah! Hanya kurang dari satu jam dari dua puluh empat jam, Allah ta’ala meminta kita untuk menyisihkannya guna “dipersembahkan” untuk Yang telah memberikan kepada kita segala nikmat-Nya! Layakkah kita berlaku kikir pada-Nya?



Allah ta’ala menceritakan percakapan para penghuni neraka,



”(Dosa) apakah yang mengakibatkan kalian masuk ke dalam neraka? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”. (QS. Al-Muddatstsir: 42-43)



Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang mengorbankan nikmat akhirat yang abadi guna meraih “fatamorgana” keindahan dunia yang fana ini. Amin.



Mudahan bermanfaat.



Sumber: http://kajiansaid.wordpress.com

29 Mei 2010

Hikmah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Selain seorang nabi, Sulaiman a.s. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin IfritNya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar. Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu.
Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. Di sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman.
Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu heran, “Kubah apakah gerangan ini?” fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.
“Sipakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?” tanya Nabi Sulaiman keheranan.
“Aku adalah manusia”, jawab pemuda itu perlahan.
“Bagaimana engkau boleh memperolehi karomah semacam ini?” tanya Nabi Sulaiman lagi.
Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.
Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit.
“Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah kubah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya.” Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu.
“Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?” tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut.
“Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.”
“Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?”
“Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.”
“Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?” tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin heran.
“Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam.” Tuturnya.
Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Mendamba Pemimpin Sejati

Jika dulu, para sahabat Radhiyallahu 'Anhu sangat takut untuk dipilih menjadi seorang pemimpin, maka sekarang, ada banyak orang berlomba-lomba menjadi pemimpin. Semua mengaku terbaik!

Benar sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
"Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR. Al-Bukhari).

Memilih pemimpin bukanlah perkara sepele, sebab kandidat yang terpilih itulah yang akan membawa label pemimpin rakyat untuk membuat dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang menentukan nasib jutaan jiwa umat. Suka tidak suka, kandidat yang terpilih itulah yang kemudian akan menorehkan tinta sejarah di negeri ini. Meskipun torehan itu masih tanda tanya besar, apakah akan menjadi tinta emas yang senantiasa dikenang atau tinta hitam yang senantiasa diratapi. Mampukah ia menjadi pemimpin sejati, atau justru menjadi pemimpin yang menghianati amanat rakyat.
Pemimpin merupakan lambang kekuatan, keutuhan, kedisiplinan dan persatuan. Namun harus kita sadari juga bahwa pemimpin bukanlah hanya sekadar lambang. Karena itu, ia memerlukan kompetensi, kelayakan dan aktivitas yang prima untuk memimpin bawahannya.
Melihat esensi kepemimpinan, sebagai seorang Muslim, tentu tidak bisa sembarangan dalam memilih pemimpin. Jangan sampai perilaku “memilih kucing dalam karung” menghantui kita.


PERAN SEORANG PEMIMPIN



Menurut perspektif Islam ada dua peran yang dimainkan oleh seorang pemimpin:


1. Pelayan (khadim)
Pemimpin adalah pelayan bagi pengikutnya. Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu hal tersebut sebagai tanda kemuliaan. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya.
Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak, dia bekerja lebih keras, dia berpikir lebih kuat, lebih lama dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya.
Demikianlah pemimpin sejati yang dicontohkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang-orang yang dipimpinnya.


2. Pemandu (muwajjih)
Pemimpin adalah pemandu yang memberikan arahan pada pengikutnya untuk menunjukkan jalan yang terbaik agar selamat sampai di tujuan tentu saja itu baru tercapai dengan sempurna jika di bawah naungan syariat Islam.


KARAKTERISTIK PEMIMPIN DALAM ISLAM



Perlu disadari, dalam memilih pemimpin ada tanggung jawab yang akan dipikul di hadapan Allah terhadap pilihan kita. Di sinilah pentingnya seorang pemilih mengenal calon pemimpinnya. Agar bisa mengetahui kesesuaiannya dengan karakter pemimpin ideal yang diatur oleh Islam. Kalau ternyata sesuai, maka jangan sungkan memberikan suara.
Di antara karakteristik pemimpin dalam Islam, yaitu:


1. Jujur
Pemimpin Islam haruslah jujur kepada dirinya sendiri dan pengikutnya. Seorang pemimpin yang jujur akan menjadi contoh terbaik. Pemimpin yang perkataan dengan perbuatannya senantiasa sejalan.


2. Kompeten
Kompotensi dalam bidangnya mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin Islam. Orang akan mengikuti seseorang jika ia benar-benar meyakini bahwa orang yang diikutinya benar-benar tahu apa yang sedang diperbuatnya.


3. Inspiratif
Seorang pengikut akan merasakan 'aman' jika pemimpinnya membawanya pada rasa nyaman dan menimbulkan rasa optimis seburuk apa pun situasi yang sedang dihadapi.


4. Sabar
Pemimpin Islam haruslah sabar dalam menghadapi segala macam persoalan dan keterbatasan, serta tidak bertindak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.


5. Rendah hati
Seorang pemimpin Islam hendaklah memiliki sikap rendah hati. Tidak suka menampakkan kelebihannya (riya) serta tidak merendahkan orang lain.


6. Musyawarah
Dalam menghadapi setiap persoalan, seorang pemimpin Islam haruslah menempuh jalan musyawarah serta tidak menentukan keputusan sendiri.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa'di—rahimahullah—mengatakan, "Jika Allah mengatakan kepada Rasul-Nya—padahal beliau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya dan paling banyak idenya, "Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali Imran: 159). Maka bagaimana dengan yang selain beliau?"


7. Mampu berkomunikasi dengan rakyatnya
Kapasitas ilmiah serta empati dan rasa sensitivitas yang baik akan mereka yang dipimpinnya, pada akhirnya akan melahirkan seorang pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada rakyatnya. Komunikasi yang baik kepada rakyatnya bukanlah sekadar kemampuan retorika yang baik, tetapi juga kemampuan memilih hal yang akan dilempar kepada publik serta timing yang tepat dalam melemparkannya. Kematangan seorang pemimpin akan membuatnya mampu berkomunikasi yang jauh dari sikap emosional. Dan yang terpenting dari semua itu adalah sang pemimpin akhirnya mampu mengambil sebuah kebijakan yang tepat dalam sebuah kondisi yang memang dibutuhkan oleh rakyat yang dipimpinnya.

RAHASIA KEKUATAN PEMIMPIN




1. Kekuatan iman, ilmu, dan wawasan yang luas
Seluruh nabi dan rasul memimpin dengan kekuatan iman dan ilmu. Nabi Sulaiman Alaihissalam memerintah hampir seluruh makhluk (seperti jin, binatang, angin) dengan ilmu dan keimanan yang kuat. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dapat menyelesaikan berbagai masalah dengan ilmu dan keimanan yang kuat. Dengan ilmu dan iman seorang pemimpin sanggup memimpin dirinya (seperti memimpin matanya, hatinya, lidahnya, pikiran dan hawa nafsunya) sebelum memimpin orang lain.


2. Ibadah dan taqarrub kepada Allah.
Ibadah dan banyak bertaqarrub kepada Allah, dapat melahirkan kewibaan, ketawadhuan, kesabaran, optimisme, dan tawakkal. Ibadah dan taqarrub juga akan melahirkan kekuatan ruhaniyah yang dahsyat.


3. Keteladanan.
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajak jihad, beliau bertempur paling depan, bersedekah paling ringan dan hidup paling bersahaja. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallammenyuruh bertahajud, beliaulah yang kakinya bengkak karena banyak bertahajjud. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menghimbau umatnya untuk berhias dengan akhlak mulia, beliaulah manusia yang paling mulia akhlaknya.


KARAKTERISTIK PENGIKUT DALAM ISLAM



1. Taat
Seorang pengikut harus patuh kepada pemimpin. Setelah pemimpin dipilih lewat jalan musyawarah maka wajib bagi pengikutnya (yang menang dan yang kalah untuk taat kepadanya, kecuali sang pemimpin telah melanggar ketentuan Allah dan membuat kerusakan).


2. Dinamis dan kritis
Seorang pengikut harus dinamis dan kritis dalam mengikuti kepemimpinan seseorang. Islam tidak mengajarkan suatu ketundukan buta atau sekadar ikut-ikutan. 


PENUTUP

Bagi pemimpin dan calon pemimpin masa depan, amanah yang Anda emban bukanlah suatu kemegahan dan kebanggaan. Bahkan demi mengingat beratnya beban amanah, Khalifah Umar bin Khaththab memberikan sebuah ungkapan, "Saya sudah cukup senang jika dapat keluar dari dunia ini dengan impas; tidak mendapat dosa dan tidak pula mendapat pahala."


Maka jadikanlah janji Allah memasukan pemimpin yang adil dalam surga-Nya sebagai sumber energi hidup Anda.


Dan bagi yang akan memberikan pilihan dan selanjutnya akan dipimpin, marilah kita sadari bahwa kesempatan kita hanya sekali untuk melakukan pilihan dengan tepat. Setelah itu, kemampuan kita dalam menentukan arah kepemimpinan tidak sekuat di saat kita memilih. Setidaknya, kita telah berusaha melakukannya. Dan yang pasti, pilihan kita akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhaanahu Wata'ala. 



Karena itu, akan senantiasa dibutuhkan seorang Muslim yang mampu menentukan pilihannya secara cerdas dan tepat. 
Wallahu Waliyyut Taufiq 
Dari berbagai sumber (Al Fikrah No.11 Tahun X/08 Rabiul Akhir 1430 H) -  www.wahdah.or.id

15 Desember 2009

DAMPAK MEDIS SHALAT TAHAJJUD

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker. Tidak percaya?
Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. "Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker". Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan 'tukang obat' jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul 'Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi" Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu.
Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping). 
Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh.
Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.
Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika).
Hasilnya,ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil. "Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,"Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik. Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat,anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.
Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita? Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.
Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang diwajibkan oleh Islam.
Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.
Kesimpulannya: Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal.

12 Desember 2009

Islam Totalitas


Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:208)
Dari ayat di atas sungguhlah Alloh SWT mengajak manusia agar tidak terjerumus dari bisikan-bisikan yang syaitan, yang sebagaimana dahulu nabi Adam AS. Terusir dari Syurga.
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". (QS. 2:36)
Pada zaman sekarang setelah zaman nabi Muhammad SAW yang di sebut sebagai zaman khuntum khairu ummah (umat yang terbaik). Terdapat banyak sekali pengikisan-pengikisan moral atau kalau lebih spesifik lagi agama. Di muka bumi ini banyak orang membicarakan hanya halal atau haram saja. Padahal Islam itu sangat luas dan mencakup segala unsur aspek kehidupan. Sehingga bila seseorang tersebut mendapat hambatan/kendala dalam kehidupannya dia sering lupa dan tersandung karena mereka hanya mempunyai pengetahuan yang sangat sedikit (hanya di tepi-tepinya saja) Ayat di bawah ini merupakan sindiran Alloh SWT.
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. 22:11)
Jikalau kita bertanya Islam yang total itu yang bagaimana sih ? apakah dengan sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan dan membayar zakat itu cukup ?

Islam mempunyai tujuh sendi utama, yaitu :
  1. Aqidah
  2. Ibadah
  3. Jihad
  4. Ikhlas
  5. Ahlaq
  6. Ukhuwah
  7. Mu'amalah  
Setiap sendi-sendi tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya bila, kurang atau putus pada salah satu sendi tersebut maka tidaklah mungkin kita menjadi Insanul Kamil (Manusia yang sempurna). Bayangkan bila Islam itu tubuh kita bila salah satu dari tubuh kita rusak (tangan misalkan) maka kita tidak bias di sebut manusia yang sempurna sehingga aktifitas yang menggunakan tangan tidaklah mungkin kita kerjakan.
Untuk tulisan selanjutnya penulis akan menerangkan bagian-bagian tersebut secara detail, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semuanya. Amien.

11 Desember 2009

Pergunakan Lima Kesempatan

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah s.a.w bersabda : " Pergunakan kesempatan yang lima sebelum datangnya yang lima perkara yaitu: Hidup sebelum mati,

            sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, dan kaya sebelum miskin " ( H.R Baihaqi )

            Dari hadis di atas menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai kesempatan dan pada hakikatnya setiap kesempatan itu ada untuk melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yang berlandaskan undang-undang Allah dan rasul.

            Setiap kesempatan akan datang padanya sekali dalam hidupnya, oleh sebab itu jangan disia-siakan setiap kesempatan yang baik. Sebagaimana dalam firman-Nya yang bermaksud : " Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segalanya" (Q.S Al-Baqoroh : 148 )

            1. Hidup Sebelum Mati

            Nikmat umur dan ruh yang telah Allah beri kepada makhlukNya terutama insan yang bernama manusia hendaknya disyukuri. Karena dengan adanya roh yang Allah tiupkan kepada jasad manusia, manusia menjadi bernyawa dan hidup. Dengan hidupnya manusia maka  ada yang disebut umur atau usia. Dalam firman Allah yang bermaksud : " Dia ( Allah ) yang menghidupkan dan yang mematikan dan hanya kepada-Nya kamu akan kembali" ( Q.S Yunus : 56)

            Dengan demikian jangan dipersiakan kehidupan ini dengan membuang masa begitu saja, bersenang-senang dalam meraih kesenangan duniawi, bermegah-megahan tanpa memikirkan tentang kehidupan yang kekal kelak di akherat. Karena semua kesenangan yang bersifat duniawi atau kebendaan tidak akan kekal dan tidak akan dibawa pulang ketika kita dipanggil pulang oleh Yang Maha Pencipta yaitu kematian.

            Kematian, jodoh, rezeki itu ketetapan dan kerja Allah, manusia tidak mengetahui kapan akan menghadapi kematian. Kapan-kapan saja kematian itu akan datang dan dimana saja datangnya. dan kematian tidak bisa diundur-undur atau ditawar-tawar karena kematian juga sifatnya paksaan. Tua, muda, bocah cilik, bayi yang namanya kematian akan sampai andai Allah sudah menghendaki demikian.

            Oleh sebab itu sebelum datangnya sakaratul maut kita hendaknya mempergunakan kesempatan hidup dengan sebaik mungkin. Jangan diri kita dijadikan suruhan duniawi saja sehingga tidak mengingati akan adanya kematian. Dekatkan diri kita kepada Allah dan usahakan untuk mencintaiNya, berbuat baik terhadap sesama manusia, binatang, dan alam sekitar. Jauhi segala laranganNya dan patuhi perintahNya. Karena kalau ajal sudah datang, pintu taubat sudah ditutup.

            2. Sehat Sebelum Sakit

            Dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Setiap manusia menginginkan untuk hidup sehat, karena kalau dalam keadaan sehat semua aktiviti kehidupannya dapat dijalankan dengan baik. Tidak ada manusia mengharapkan sakit, orang yang sakitpun mengharapkan dirinya supaya cepat sembuh

            Oleh yang demikian ketika hidup dalam keadaan sehat, jangan dipersiakan-siakan dengan hanya mengejar kebahagiaan duniawi. Fisik yang sehat akan senang mencari rezeki, beribadah, dan mengerjakan ibadah fisik lainnya. Kebahagian fisik dan mental harus dapat diseimbangkan. Kebahagiaan mental bersifat kerohanian, untuk mengejar kebahagiaan rohani adalah dengan jalan mengenal dan mendekatkan diri dengan Allah setelah mencintai Allah.

            Sebelum datangnya rasa sakit ketubuh badan kita yang menyebabkan kurang sempurna dalam menjalankan ibadah, kurang keselesaan, kurang fit dalam bertaqarrub kepada Allah, maka lakukan ketika masih sihat. Syukuri nikmat sehat dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan menjalankan apa yang sudah disyari'atkan sebelum datangnya sakit.

            3. Lapang Sebelum Sempit

            Selagi umur dunia masih ada selagi itulah manusia akan melakukan segala aktiviti hidup. Dalam menjalankan tugasan seharian seseorang memerlukan kerja keras dan komitmen yang tinggi, sehingga apa yang dihajati dapat terlaksana.

            Kesibukan dalam bekerja atau mencari rezeki janganlah dijadikan alasan untuk tidak mendekati dan mencintai Allah. Walau betapa sibuknya dalam bekerja atau mencari rezeki atau membuat aktiviti lain, masih ada masa luangnya dicelah-celah kesibukan tersebut. Tidak ada manusia yang bekerja selama 24jam tanpa henti, manusia bukan robot. Yang namanya robot saja dalam bekerja ada masanya untuk rest inikan lagi manusia.

            Pada umumnya yang memberi alasan sibuk dan tidak ada masa luang adalah ketika untuk menjalankan panggilan adzan yaitu dengan melaksanakan shalat. Manusia sanggup meninggalkan shalat semata-mata hendak menyiapkan kerjanya, sanggup merobohkan tiang agama demi menyelesaikan hal dunia. Atau juga melengah-lengahkan atau melalaikan shalat dengan menggunakan alasan yang klasik yaitu dengan menggunakana perkataan " tanggung, sebentar lagi, sekian minit lagi" dan alasan yang serupa maknanya. Wal hal mengerjakan shalat tepat waktu itu tidak susah dan tidak lama, karena dengan mengerjakan shalatpun semua pekerjaan akan selesai juga asalkan dapat menjalankan amanah kerja dengan baik. Dan balasan bagi orang yang melalaikan shalat adalah neraka wail.

            Ketika ada kelapangan, ada kesempatan untuk melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah buatlah dengan segera dan rela atau ikhlas jangan menunggu datangnya kesempitan atau kesusahan. Kematian kita tak tau kapan datangnya, jadi bersiap-siaplah kita menghimpun bekal amalan dengan lebih banyak.

            4. Muda Sebelum Tua

            Sesuai dengan hukum 'alam, manusia akan mengalami proses atau tingkatan-tingkatan dari bayi tumbuh menjadi anak, dari anak-anak tumbuh menjadi remaja ( muda ), setelah itu memasuki peringkat tua.

            Selagi masih muda, masih mempunyai kekuatan fisik dan mentalnya sehingga masih kuat dan masih berfikir secara kritis dan cemerlang. Pada masa ini juga hendaknya dapat mempergunakan peluang yang ada dengan hal-hal yang positif menuju kepada kebaikan, baik kepada sesama manusia maupun dengan Allah.

            Masa muda janganlah digunakan untuk berfoya-foya, minum-minuman keras, terlibat dengan narkoba dan aktiviti negatif lainnya. Akan tetapi harus bisa berfikir dan melihat langkah kedepan, cita-cita untuk masa depan. Setiap langkah yang dilakukan amat bernilai dan berarti bagi diri, keluarga, dan negara. Karena apabila generasi mudanya tidak berkualitas dan tidak bermoral maka negara akan hancur. Sebab tu ada perkataan pemuda harapan bangsa. Pemuda tonggak harapan negara.  Jangan sia-siakan harapan ini wahai pemuda.

            Kehidupan ketika muda jangan disia-siakan karena apabila peluang ini diaia-siakan maka akan mengalami penyesalan di belakang, karena penyesalan di belakang itu tidak akan berarti  karena masa yang sudah dijalani tidak akan dan tidak bisa diputar ke depan lagi, tidak bisa dikembalikan lagi. Hidup di dunia hanya sekali dan peluang yang datangpun cuma satu kali, oleh karena itu pergunakan masa muda dengan sebaik mungkin sebelum memasuki masa tua. Karena orang yang sudah tua dan uzur tidak sesempurna ketika masa muda dalam melakukan ibadah dan akiviti lainnya. Segala kegiatannya sudah mengalami kelemahan dalam bergerak, baik kegiatan dalam bentuk kemasyarakatan maupun ibadah yang berhubung dengan Allah. Kelemahan disini adalah dari segi fisik, fisiknya sudah tidak sesegar masa muda, tidak secergas masa muda.

            5. Kaya Sebelum Miskin

            Allah menciptakan dunia ini dengan berpasang-pasangan, ada siang dan ada malam, ada perempuan dan ada lelaki, ada kaya dan ada miskin dan sebagainya.

            Ketika kita diberi kepercayaan oleh Allah dengan diberi harta kekayaan. Janganlah kita menolak atau menyakiti yang miskin. Setiap rezeki yang kita dapatkan dengan anggota badan kita, kita harus ingat bahwa disitu ada rezeki orang lain yang telah Allah titipkan melalui kita. Semua harta kekayaan yang dimiliki  seseorang adalah amanah Allah. Allah yang mempunyai harta kekayaan tersebut. Karena Allah Maha Kaya sedangkan manusia adalah pada hakekatnya adalah miskin, papa, tidak mempunyai apa-apa.

            Oleh sebab itu ketika Allah memberi kepercayaan kepada kita untuk menjaga dan memelihara milikNya, jangan kita bersikap sombong kepada yang miskin. Syukuri apa yang telah Allah beri yang telah Allah telah amanahkan kepada kita. Belanjakan hartanya untuk jalan Allah, jalan kebaikan. Ingat dengan orang yang memerlukan yaitu para fakir dan miskin.

            Ketika kita berharta janganlah bersikap medit untuk beramal di jalan Allah, karena harta itu tidak akan kekal. Sebagai peminjam kita harus dapat menjaganya karena kapan-kapan saja pemiliknya akan mengambil balik. Kalau sudah tidak dipercaya maka pemilik berhak dan akan mengambil balik hak miliknya.

            Barang siapa yang mensyukuri atas nikmatKu yang telah Aku berikan maka akan Aku tambahkan nikmatku itu kepadamu dan barang siapa yang tidak mensyukurinya maka sesungguhnya AzabKu sangat pedih.

            Dengan demikian sesungguhnya manusia tidak mempunyai apa-apa, maka ketika Allah mengamanahkan harta kekayaan kepada kita hendaknya kita menjalankan amanah itu dengan baik sehingga pemiliknya merasakan kesenangan dan mempercayai. Dan kalau sudah dipercayai maka pemilik harta tersebut akan menambahkan lagi kekayaanNya. Sesungguhnya hanya Allah yang Maha Kaya.

            Dengan adanya lima kesempatan ini, jadikan sebagai titk ukur untuk mengingatkan diri kita supaya tidak ada penyesalan di belakang hari. Dunia yang sudah berputar ke depan tidak bisa diputar balikkan lagi. Perkara yang telah lalu tidak bisa dikembalkan lagi.

            Mudah-mudahan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak mensia-sikan kehidupan ini dan termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa membasahi bibirnya dengan selalu beristighfar dan mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan. Aaamiiiiin.