09 November 2010
Hanya Lima Puluh Menit Dalam Sehari
29 Mei 2010
Hikmah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua
Mendamba Pemimpin Sejati
Pemimpin merupakan lambang kekuatan, keutuhan, kedisiplinan dan persatuan. Namun harus kita sadari juga bahwa pemimpin bukanlah hanya sekadar lambang. Karena itu, ia memerlukan kompetensi, kelayakan dan aktivitas yang prima untuk memimpin bawahannya.
Melihat esensi kepemimpinan, sebagai seorang Muslim, tentu tidak bisa sembarangan dalam memilih pemimpin. Jangan sampai perilaku “memilih kucing dalam karung” menghantui kita.
PERAN SEORANG PEMIMPIN
Menurut perspektif Islam ada dua peran yang dimainkan oleh seorang pemimpin:
1. Pelayan (khadim)
Pemimpin adalah pelayan bagi pengikutnya. Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu hal tersebut sebagai tanda kemuliaan. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya.
Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak, dia bekerja lebih keras, dia berpikir lebih kuat, lebih lama dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya.
Demikianlah pemimpin sejati yang dicontohkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang-orang yang dipimpinnya.
2. Pemandu (muwajjih)
Pemimpin adalah pemandu yang memberikan arahan pada pengikutnya untuk menunjukkan jalan yang terbaik agar selamat sampai di tujuan tentu saja itu baru tercapai dengan sempurna jika di bawah naungan syariat Islam.
KARAKTERISTIK PEMIMPIN DALAM ISLAM
Perlu disadari, dalam memilih pemimpin ada tanggung jawab yang akan dipikul di hadapan Allah terhadap pilihan kita. Di sinilah pentingnya seorang pemilih mengenal calon pemimpinnya. Agar bisa mengetahui kesesuaiannya dengan karakter pemimpin ideal yang diatur oleh Islam. Kalau ternyata sesuai, maka jangan sungkan memberikan suara.
Di antara karakteristik pemimpin dalam Islam, yaitu:
1. Jujur
Pemimpin Islam haruslah jujur kepada dirinya sendiri dan pengikutnya. Seorang pemimpin yang jujur akan menjadi contoh terbaik. Pemimpin yang perkataan dengan perbuatannya senantiasa sejalan.
2. Kompeten
Kompotensi dalam bidangnya mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin Islam. Orang akan mengikuti seseorang jika ia benar-benar meyakini bahwa orang yang diikutinya benar-benar tahu apa yang sedang diperbuatnya.
3. Inspiratif
Seorang pengikut akan merasakan 'aman' jika pemimpinnya membawanya pada rasa nyaman dan menimbulkan rasa optimis seburuk apa pun situasi yang sedang dihadapi.
4. Sabar
Pemimpin Islam haruslah sabar dalam menghadapi segala macam persoalan dan keterbatasan, serta tidak bertindak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
5. Rendah hati
Seorang pemimpin Islam hendaklah memiliki sikap rendah hati. Tidak suka menampakkan kelebihannya (riya) serta tidak merendahkan orang lain.
6. Musyawarah
Dalam menghadapi setiap persoalan, seorang pemimpin Islam haruslah menempuh jalan musyawarah serta tidak menentukan keputusan sendiri.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa'di—rahimahullah—mengatakan, "Jika Allah mengatakan kepada Rasul-Nya—padahal beliau adalah orang yang paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya dan paling banyak idenya, "Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali Imran: 159). Maka bagaimana dengan yang selain beliau?"
7. Mampu berkomunikasi dengan rakyatnya
Kapasitas ilmiah serta empati dan rasa sensitivitas yang baik akan mereka yang dipimpinnya, pada akhirnya akan melahirkan seorang pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada rakyatnya. Komunikasi yang baik kepada rakyatnya bukanlah sekadar kemampuan retorika yang baik, tetapi juga kemampuan memilih hal yang akan dilempar kepada publik serta timing yang tepat dalam melemparkannya. Kematangan seorang pemimpin akan membuatnya mampu berkomunikasi yang jauh dari sikap emosional. Dan yang terpenting dari semua itu adalah sang pemimpin akhirnya mampu mengambil sebuah kebijakan yang tepat dalam sebuah kondisi yang memang dibutuhkan oleh rakyat yang dipimpinnya.
RAHASIA KEKUATAN PEMIMPIN
1. Kekuatan iman, ilmu, dan wawasan yang luas
Seluruh nabi dan rasul memimpin dengan kekuatan iman dan ilmu. Nabi Sulaiman Alaihissalam memerintah hampir seluruh makhluk (seperti jin, binatang, angin) dengan ilmu dan keimanan yang kuat. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dapat menyelesaikan berbagai masalah dengan ilmu dan keimanan yang kuat. Dengan ilmu dan iman seorang pemimpin sanggup memimpin dirinya (seperti memimpin matanya, hatinya, lidahnya, pikiran dan hawa nafsunya) sebelum memimpin orang lain.
2. Ibadah dan taqarrub kepada Allah.
Ibadah dan banyak bertaqarrub kepada Allah, dapat melahirkan kewibaan, ketawadhuan, kesabaran, optimisme, dan tawakkal. Ibadah dan taqarrub juga akan melahirkan kekuatan ruhaniyah yang dahsyat.
3. Keteladanan.
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajak jihad, beliau bertempur paling depan, bersedekah paling ringan dan hidup paling bersahaja. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallammenyuruh bertahajud, beliaulah yang kakinya bengkak karena banyak bertahajjud. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menghimbau umatnya untuk berhias dengan akhlak mulia, beliaulah manusia yang paling mulia akhlaknya.
KARAKTERISTIK PENGIKUT DALAM ISLAM
1. Taat
Seorang pengikut harus patuh kepada pemimpin. Setelah pemimpin dipilih lewat jalan musyawarah maka wajib bagi pengikutnya (yang menang dan yang kalah untuk taat kepadanya, kecuali sang pemimpin telah melanggar ketentuan Allah dan membuat kerusakan).
2. Dinamis dan kritis
Seorang pengikut harus dinamis dan kritis dalam mengikuti kepemimpinan seseorang. Islam tidak mengajarkan suatu ketundukan buta atau sekadar ikut-ikutan.
PENUTUP
Bagi pemimpin dan calon pemimpin masa depan, amanah yang Anda emban bukanlah suatu kemegahan dan kebanggaan. Bahkan demi mengingat beratnya beban amanah, Khalifah Umar bin Khaththab memberikan sebuah ungkapan, "Saya sudah cukup senang jika dapat keluar dari dunia ini dengan impas; tidak mendapat dosa dan tidak pula mendapat pahala."
Maka jadikanlah janji Allah memasukan pemimpin yang adil dalam surga-Nya sebagai sumber energi hidup Anda.
Dan bagi yang akan memberikan pilihan dan selanjutnya akan dipimpin, marilah kita sadari bahwa kesempatan kita hanya sekali untuk melakukan pilihan dengan tepat. Setelah itu, kemampuan kita dalam menentukan arah kepemimpinan tidak sekuat di saat kita memilih. Setidaknya, kita telah berusaha melakukannya. Dan yang pasti, pilihan kita akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhaanahu Wata'ala.
Karena itu, akan senantiasa dibutuhkan seorang Muslim yang mampu menentukan pilihannya secara cerdas dan tepat.
Wallahu Waliyyut Taufiq
Dari berbagai sumber (Al Fikrah No.11 Tahun X/08 Rabiul Akhir 1430 H) - www.wahdah.or.id
15 Desember 2009
DAMPAK MEDIS SHALAT TAHAJJUD
| Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. "Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker". Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan 'tukang obat' jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul 'Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi" Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu. |
| Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping). |
| Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin. Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika). Hasilnya,ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil. "Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,"Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik. Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat,anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita? Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini. Kesimpulannya: Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. |
12 Desember 2009
Islam Totalitas
| ||
11 Desember 2009
Pergunakan Lima Kesempatan
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah s.a.w bersabda : " Pergunakan kesempatan yang lima sebelum datangnya yang lima perkara yaitu: Hidup sebelum mati,
sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, dan kaya sebelum miskin " ( H.R Baihaqi )
Dari hadis di atas menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai kesempatan dan pada hakikatnya setiap kesempatan itu ada untuk melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yang berlandaskan undang-undang Allah dan rasul.
Setiap kesempatan akan datang padanya sekali dalam hidupnya, oleh sebab itu jangan disia-siakan setiap kesempatan yang baik. Sebagaimana dalam firman-Nya yang bermaksud : " Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segalanya" (Q.S Al-Baqoroh : 148 )
1. Hidup Sebelum Mati
Nikmat umur dan ruh yang telah Allah beri kepada makhlukNya terutama insan yang bernama manusia hendaknya disyukuri. Karena dengan adanya roh yang Allah tiupkan kepada jasad manusia, manusia menjadi bernyawa dan hidup. Dengan hidupnya manusia maka ada yang disebut umur atau usia. Dalam firman Allah yang bermaksud : " Dia ( Allah ) yang menghidupkan dan yang mematikan dan hanya kepada-Nya kamu akan kembali" ( Q.S Yunus : 56)
Dengan demikian jangan dipersiakan kehidupan ini dengan membuang masa begitu saja, bersenang-senang dalam meraih kesenangan duniawi, bermegah-megahan tanpa memikirkan tentang kehidupan yang kekal kelak di akherat. Karena semua kesenangan yang bersifat duniawi atau kebendaan tidak akan kekal dan tidak akan dibawa pulang ketika kita dipanggil pulang oleh Yang Maha Pencipta yaitu kematian.
Kematian, jodoh, rezeki itu ketetapan dan kerja Allah, manusia tidak mengetahui kapan akan menghadapi kematian. Kapan-kapan saja kematian itu akan datang dan dimana saja datangnya. dan kematian tidak bisa diundur-undur atau ditawar-tawar karena kematian juga sifatnya paksaan. Tua, muda, bocah cilik, bayi yang namanya kematian akan sampai andai Allah sudah menghendaki demikian.
Oleh sebab itu sebelum datangnya sakaratul maut kita hendaknya mempergunakan kesempatan hidup dengan sebaik mungkin. Jangan diri kita dijadikan suruhan duniawi saja sehingga tidak mengingati akan adanya kematian. Dekatkan diri kita kepada Allah dan usahakan untuk mencintaiNya, berbuat baik terhadap sesama manusia, binatang, dan alam sekitar. Jauhi segala laranganNya dan patuhi perintahNya. Karena kalau ajal sudah datang, pintu taubat sudah ditutup.
2. Sehat Sebelum Sakit
Dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Setiap manusia menginginkan untuk hidup sehat, karena kalau dalam keadaan sehat semua aktiviti kehidupannya dapat dijalankan dengan baik. Tidak ada manusia mengharapkan sakit, orang yang sakitpun mengharapkan dirinya supaya cepat sembuh
Oleh yang demikian ketika hidup dalam keadaan sehat, jangan dipersiakan-siakan dengan hanya mengejar kebahagiaan duniawi. Fisik yang sehat akan senang mencari rezeki, beribadah, dan mengerjakan ibadah fisik lainnya. Kebahagian fisik dan mental harus dapat diseimbangkan. Kebahagiaan mental bersifat kerohanian, untuk mengejar kebahagiaan rohani adalah dengan jalan mengenal dan mendekatkan diri dengan Allah setelah mencintai Allah.
Sebelum datangnya rasa sakit ketubuh badan kita yang menyebabkan kurang sempurna dalam menjalankan ibadah, kurang keselesaan, kurang fit dalam bertaqarrub kepada Allah, maka lakukan ketika masih sihat. Syukuri nikmat sehat dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan menjalankan apa yang sudah disyari'atkan sebelum datangnya sakit.
3. Lapang Sebelum Sempit
Selagi umur dunia masih ada selagi itulah manusia akan melakukan segala aktiviti hidup. Dalam menjalankan tugasan seharian seseorang memerlukan kerja keras dan komitmen yang tinggi, sehingga apa yang dihajati dapat terlaksana.
Kesibukan dalam bekerja atau mencari rezeki janganlah dijadikan alasan untuk tidak mendekati dan mencintai Allah. Walau betapa sibuknya dalam bekerja atau mencari rezeki atau membuat aktiviti lain, masih ada masa luangnya dicelah-celah kesibukan tersebut. Tidak ada manusia yang bekerja selama 24jam tanpa henti, manusia bukan robot. Yang namanya robot saja dalam bekerja ada masanya untuk rest inikan lagi manusia.
Pada umumnya yang memberi alasan sibuk dan tidak ada masa luang adalah ketika untuk menjalankan panggilan adzan yaitu dengan melaksanakan shalat. Manusia sanggup meninggalkan shalat semata-mata hendak menyiapkan kerjanya, sanggup merobohkan tiang agama demi menyelesaikan hal dunia. Atau juga melengah-lengahkan atau melalaikan shalat dengan menggunakan alasan yang klasik yaitu dengan menggunakana perkataan " tanggung, sebentar lagi, sekian minit lagi" dan alasan yang serupa maknanya. Wal hal mengerjakan shalat tepat waktu itu tidak susah dan tidak lama, karena dengan mengerjakan shalatpun semua pekerjaan akan selesai juga asalkan dapat menjalankan amanah kerja dengan baik. Dan balasan bagi orang yang melalaikan shalat adalah neraka wail.
Ketika ada kelapangan, ada kesempatan untuk melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah buatlah dengan segera dan rela atau ikhlas jangan menunggu datangnya kesempitan atau kesusahan. Kematian kita tak tau kapan datangnya, jadi bersiap-siaplah kita menghimpun bekal amalan dengan lebih banyak.
4. Muda Sebelum Tua
Sesuai dengan hukum 'alam, manusia akan mengalami proses atau tingkatan-tingkatan dari bayi tumbuh menjadi anak, dari anak-anak tumbuh menjadi remaja ( muda ), setelah itu memasuki peringkat tua.
Selagi masih muda, masih mempunyai kekuatan fisik dan mentalnya sehingga masih kuat dan masih berfikir secara kritis dan cemerlang. Pada masa ini juga hendaknya dapat mempergunakan peluang yang ada dengan hal-hal yang positif menuju kepada kebaikan, baik kepada sesama manusia maupun dengan Allah.
Masa muda janganlah digunakan untuk berfoya-foya, minum-minuman keras, terlibat dengan narkoba dan aktiviti negatif lainnya. Akan tetapi harus bisa berfikir dan melihat langkah kedepan, cita-cita untuk masa depan. Setiap langkah yang dilakukan amat bernilai dan berarti bagi diri, keluarga, dan negara. Karena apabila generasi mudanya tidak berkualitas dan tidak bermoral maka negara akan hancur. Sebab tu ada perkataan pemuda harapan bangsa. Pemuda tonggak harapan negara. Jangan sia-siakan harapan ini wahai pemuda.
Kehidupan ketika muda jangan disia-siakan karena apabila peluang ini diaia-siakan maka akan mengalami penyesalan di belakang, karena penyesalan di belakang itu tidak akan berarti karena masa yang sudah dijalani tidak akan dan tidak bisa diputar ke depan lagi, tidak bisa dikembalikan lagi. Hidup di dunia hanya sekali dan peluang yang datangpun cuma satu kali, oleh karena itu pergunakan masa muda dengan sebaik mungkin sebelum memasuki masa tua. Karena orang yang sudah tua dan uzur tidak sesempurna ketika masa muda dalam melakukan ibadah dan akiviti lainnya. Segala kegiatannya sudah mengalami kelemahan dalam bergerak, baik kegiatan dalam bentuk kemasyarakatan maupun ibadah yang berhubung dengan Allah. Kelemahan disini adalah dari segi fisik, fisiknya sudah tidak sesegar masa muda, tidak secergas masa muda.
5. Kaya Sebelum Miskin
Allah menciptakan dunia ini dengan berpasang-pasangan, ada siang dan ada malam, ada perempuan dan ada lelaki, ada kaya dan ada miskin dan sebagainya.
Ketika kita diberi kepercayaan oleh Allah dengan diberi harta kekayaan. Janganlah kita menolak atau menyakiti yang miskin. Setiap rezeki yang kita dapatkan dengan anggota badan kita, kita harus ingat bahwa disitu ada rezeki orang lain yang telah Allah titipkan melalui kita. Semua harta kekayaan yang dimiliki seseorang adalah amanah Allah. Allah yang mempunyai harta kekayaan tersebut. Karena Allah Maha Kaya sedangkan manusia adalah pada hakekatnya adalah miskin, papa, tidak mempunyai apa-apa.
Oleh sebab itu ketika Allah memberi kepercayaan kepada kita untuk menjaga dan memelihara milikNya, jangan kita bersikap sombong kepada yang miskin. Syukuri apa yang telah Allah beri yang telah Allah telah amanahkan kepada kita. Belanjakan hartanya untuk jalan Allah, jalan kebaikan. Ingat dengan orang yang memerlukan yaitu para fakir dan miskin.
Ketika kita berharta janganlah bersikap medit untuk beramal di jalan Allah, karena harta itu tidak akan kekal. Sebagai peminjam kita harus dapat menjaganya karena kapan-kapan saja pemiliknya akan mengambil balik. Kalau sudah tidak dipercaya maka pemilik berhak dan akan mengambil balik hak miliknya.
Barang siapa yang mensyukuri atas nikmatKu yang telah Aku berikan maka akan Aku tambahkan nikmatku itu kepadamu dan barang siapa yang tidak mensyukurinya maka sesungguhnya AzabKu sangat pedih.
Dengan demikian sesungguhnya manusia tidak mempunyai apa-apa, maka ketika Allah mengamanahkan harta kekayaan kepada kita hendaknya kita menjalankan amanah itu dengan baik sehingga pemiliknya merasakan kesenangan dan mempercayai. Dan kalau sudah dipercayai maka pemilik harta tersebut akan menambahkan lagi kekayaanNya. Sesungguhnya hanya Allah yang Maha Kaya.
Dengan adanya lima kesempatan ini, jadikan sebagai titk ukur untuk mengingatkan diri kita supaya tidak ada penyesalan di belakang hari. Dunia yang sudah berputar ke depan tidak bisa diputar balikkan lagi. Perkara yang telah lalu tidak bisa dikembalkan lagi.
Mudah-mudahan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak mensia-sikan kehidupan ini dan termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa membasahi bibirnya dengan selalu beristighfar dan mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan. Aaamiiiiin.
