Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

28 Desember 2009

Pengaruh Lingkungan Kost Terhadap Kesulitan Belajar Anak



A.   PENDAHULUAN
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak lancar, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari. Kadang-kadang terasa amat sulit. Inilah kenyataan yang sering kita temui pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap individu memang tidak sama. Perbedaan inilah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku di kalangan anak didik.
Pengangkatan sebuah tema Pengaruh Lingkungan Kost Terhadap Kesulitan Belajar seorang anak ini didasarkan pada pengamatan saya terhadap beberapa anak Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sengata yang kebetulan indekost satu rumah dengan penulis. Kebetulan ada empat orang anak SMAN 1 yang tinggal satu rumah dengan penulis. Sudah 3 semester mereka berada di sengata. Mereka adalah anak-anak yang beruntung mendapatkan beasiswa dari salah satu perusahaan di kecamatan Telen untuk melanjutkan studi di sekolah unggulan SMAN 1 sengata. Mereka diambil dari anak-anak yang berprestasi di lingkungan perusahaan tersebut. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga sederhana. Hanya salah satu dari mereka yang orang tuanya kebetulan sebagai seorang guru. Kedatangan mereka pertama kali di kota Sengata terlihat polos sekali. Maklum mereka berasal dari pelosok yang kebetulan penulis juga tidak pernah kesana.
Tahun Pertama disengata prestasi mereka memang lumayan cukup lumayan untuk standart minimum yang dibebankan perusahaan kepada mereka. Mereka mampu memenuhi target tersebut. Dalam kehidupan sehari mulai awal mereka tinggal disengata, banyak sekali perubahan-perubahan yang mereka alami. Mulai dari sifat dan tingkah lakunya sehari-hari. Ada hal yang akan penulis jabarkan dalam penulisan artikel ini.
Lingkungan baru bagi beberapa orang merupakan sebuah stimulus bagi seseorang yang terkadang mampu menjadi penyebab terjadinya kesulitan dalam menyesuaikan diri dan belajar. Begitu pula halnya dengan siswa yang baru mengenal lingkungan sekolah menengah, dimana lingkungan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan SMP. Untuk menghadapi lingkungan baru ini, siswa membutuhkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sehingga dengan modal tersebut, seseorang dapat beraktivitas dalam menjalankan tugas-tugas di sekolah menengah dengan baik. Keadaan mereka yang dari kampung memaksa mereka minder terhadap situasi di kota.
Menjadi siswa di salah satu SMAN unggulan merupakan tujuan utama sebagian besar lulusan SMP. Melepaskan diri dari orang tua, memperoleh kehidupan bebas dan menjalani kehidupan yang lebih mandiri. Namun Euphoria menjadi siswa baru pasti tetap mempunyai kendala dalam pelaksanaannya. Suatu perubahan mendasar yang tiba-tiba yaitu lingkungan baru, teman baru dari berbagai kalangan bervariasi dan pemberian kebebasan secara tingkah laku dan akademik.
Dari beberapa hal tersebut, identifikasi masalah yang penulis temui adalah
1.    Kesulitan Belajar Anak kost?
2.    Apa saja faktor-faktor kesulitan belajar yang didapat?
3.    Langkah-langkah untuk mengatasi kesulitan belajar tersebut?

B.   PEMBAHASAN
1.    Kesulitan Belajar Anak Kost
Lingkungan baru bagi beberapa orang merupakan sebuah stimulus bagi seseorang yang terkadang mampu menjadi penyebab terjadinya kesulitan dalam menyesuaikan diri. Begitu pula halnya dengan siswa yang baru mengenal lingkungan sekolah menengah unggulan, dimana lingkungan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan SMP. Untuk menghadapi lingkungan baru ini, siswa membutuhkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sehingga dengan modal tersebut, seseorang dapat beraktivitas dalam menjalankan tugas-tugas disekolah menengah dengan baik.
Menjadi siswa di sekolah menengah unggulan merupakan tujuan utama sebagian besar lulusan SMP apalagi didaerah pelosok. Melepaskan diri dari orang tua, memperoleh kehidupan bebas dan menjalani kehidupan yang lebih mandiri. Namun Euphoria menjadi siswa baru pasti tetap mempunyai kendala dalam pelaksanaannya. Suatu perubahan mendasar yang tiba-tiba yaitu lingkungan baru, teman baru dari berbagai kalangan bervariasi dan pemberian kebebasan secara tingkah laku ataupun akademik.
Tidak semua siswa baru dapat menyesuaikan diri dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari sebagian anak-anak kost tersebut yang merasa tidak nyaman dengan posisinya sebagai siswa baru. Hal ini kemudian menimbulkan berbagai hambatan dalam penyesuaian diri serta sosialisasi dengan lingkungan baru. Seperti kesulitan dalam memilih teman baru, tidak cocok dengan lingkungan dan teman baru di kos dan penyesuaian lingkungan belajar yang berbeda pada saat di SMP dipelosok dan SMAN unggulan di tengah kota.
Setiap individu melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam setiap tahap perkembangannya. Pada tahap remaja individu mengalami perubahan yang hebat karena merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, khususnya pada awal pubertas atau remaja awal. Perubahan itu meliputi perubahan jasmani, kepribadian, intelek serta peranan di dalam maupun di luar lingkungan. Sedangkan tipe kepribadian remaja itu berbeda-beda karena adanya individual deferences yang membedakan pula respon remaja terhadap lingkungan.
Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa dan mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidakmampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, dan dalam masyarakat dilingkungan kost, pada umumnya. Keadaan seperti inilah yang menimbulkan kesulitan belajar setiap anak tersebut. Tidak jarang pula ditemui bahwa anak-anak mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan. Apalagi pemberian standar nilai minimum yang dibebankan perusahaan kepada anak-anak tersebut memaksan mereka harus berfikir lebih keras lagi demi memenuhi standart minimum nilai.
2.    Faktor-Faktor Kesulitan Belajar
a.    Faktor Sosial
Dalam kehidupan anak tersebut sehari-hari, anak-anak tersebut tidak pernah mendapat perhatian yang cukup oleh kedua orang tuanya. Perhatian kedua orangtuanya kebanyakan hanya dari telepon seluler aja. Mereka hanya menelepon rata-rata hanya satu atau dua kali dalam seminggu. Dengan kondisi yang jarang bertemu seperti ini, banyak sekali pengaruh pada kebiasaan belajar anak tersebut.
Selama ini hanya pihak yang punya kontrakan aja yang bisa memberikan arahan-arahan agar bisa mencapai kesempurnaan dalam belajarnya. Namun dalam hal ini tidak semua arahan-arahan atau bimbingan yang diberikan oleh pihak tuan rumah tersebut, masuk dalam fikiran anak-anak. Dan tidak semuanya yang mendengarkan atau menuruti arahan-arahan tersebut. Banyak yang menerima tetapi tidak sedikit yang masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
b.    Faktor Non Sosial
Dalam faktor non sosial ini yang bisa menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar bisa diantaranya faktor lingkungan. Dalam lingkungan keluarga misalnya, keadaan ekonomi yang kurang dari keluarga si anak tersebut dan lingkungan asal mereka yang dari perkampungan pelosok bisa saja memunculkan sifat minder bagi anak-anak tersebut. Bisa saja teman-teman mereka mengejek keadaan mereka yang dari kampung yang teman mereka pikir banyak orang kurang mampu, dan menyangka bahwa mereka semua adalah masih gagap teknologi.
3.    Langkah-langkah mengatasi kesulitan belajar
Dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar, tidak bisa diabaikan dengan kegiatan mencari faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Karena itu mencari sumber-sumber penyebab utama dan sumber penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat, efektif dan efisien.
Sesuai dengan 2 faktor penyebab timbulnya masalah belajar, maka tindakan-tindakan untuk mengatasinya adalah sebagai berikut :
a.    Untuk kasus anak yang menghadapi masalah kurang kematangan fisik, mental atau emosi, ia harus mengikuti remedial teaching. Anak memperoleh latihan-latihan khusus sesuai dengan kelemahan yang ada.
b.    Sedangkan untuk anak yang mengalami hambatan emosi, ia bersama orang tuanya perlu berkonsultasi atau memperoleh terapi (pengobatan psikologik) dari seorang psikiater atau psikolog.
Masalah sekolah biasanya baru mulai dirasakan setelah adanya suatu rangkaian kejadian. Maka dalam hal ini, usaha preventif (berjaga-jaga) yang dapat dilakukan yaitu :
a.    Para pendidik terutama orang tua dan para guru supaya memberikan perhatian yang cukup kepada anak didiknya, sehingga kekurangan atau kelemahan-kelamahan mereka secepatnya diketahui dan diatasi dengan berkonsultasi sesuia denga keluhan-keluhan yang ada kepada ahli-ahli yang bersangkutan.
b.    Supaya orang tua jangan segan-segan memeriksakan anaknya pada seorang ahli jika nampak adanya kekurangan-kekurangan tertentu. Kalau ada kekurangan-kekurangan, walaupun sedikit, tetapi jika sudah mengakibatkan gangguan bagi kelancaran berlajar anak, seperti tidak dapat membaca atau menulis, maka sebaiknya memperoleh "remedial teaching".Tetapi seandainya disarankan ke sekolah luar biasa, maka janganlah menunggu-nunggu, karena ini justru akan menambah parah keadaan anak.
c.    Para guru, bila mengetahui adanya kemunduran atau siswa tidak dapat mengikuti pelajaran disekolah, supaya segera memberitahukan kepada orang tuanya ataupun pihak dari ibu/bapak kos dan jangan membiarkan anak terlunta-lunta dikelas. Jadi seandainya anak perlu di sekolah luar biasa, supaya disalurkan dan jangan dipertahankan asal orang tuanya senang, seperti dengan cara menaikkannya setiap tahun meskipun tanpa ada prestasi.
d.    Setiap orang tua siswa harus memberikan pengertian kepada setiap anak tersebut untuk selalu belajar dengan sungguh-sungguh biarpun dalam keadaan jauh dari orangtua mereka. Dan tak lupa juga orang tua harus memberikan pesan kepada bapak/ibu kos mereka agar memberikan nasihat-nasihat atau arahan-arahan demi kelancaran belajar mereka.
e.    Bila mungkin, bentuklah suatu tim ahli di sekolah. Hingga anak-anak, para guru dan orang tua siswa secara teratur dapat berkonsultasi.
Dengan adanya pengertian dan kerja sama yang baik antara para orang tua, orang tua wali, guru dan para ahli (pedagog, psikolog, psikiater, dan neurolog) yang dengan mudah dapat dihubungi, maka kemungkinan-kemungkinan timbulnya keluhan-keluhan dalam hal kesulitan belajar pada anak-anak dan remaja khususnya, serta keluhan-keluhan lain pada umumnya, dapat kita hindari dengan cara sebaik mungkin.

C.   PENUTUP
Pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan, walaupun mungkin saja kemampuan yang dimiliki berbeda satu dengan yang lainnya. Masalah yang mungkin ada pada pada salah satu kemampuan tersebut dapat menggangu kemampuan yang lain. Dengan demikian apa yang kita sering lakukan baik sebagai seorang orang tua, ataupun seorang guru dengan mengatakan seorang anak yang mendapatkan nilai yang rendah merupakan anak yang bodoh dan gagal perlu menjadi perhatian kita. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa mungkin saja anak hanya mengalami gangguan pada salah satu kemampuan tadi, dan ia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah tersebut.
Untuk itu, yang terpenting bagi kita adalah dapat menelaah dengan baik perkembangan anak kita. Diagnosis terhadap permasalahan sesungguhnya yang dialami anak mutlak harus dilakukan. Dengan demikian kita akan mengetahui kesulitan belajar apa yang dialami anak, sehingga kita dapat menentukan alternatif pilihan bantuan bagaimana mengatasi kesulitan tersebut.

12 Desember 2009

Makalah Pembawaan & Lingkungan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                      …………………………………………… i
DAFTAR ISI                          ...........…………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN                 …………………………………………… 7
A.   Latar Belakang             …………………………………………… 4
B.   Identifikasi Masalah     …………………………………………… 5
C.   Rumusan Masalah       …………………………………………… 6
BAB II PEMBAHASAN                   …………………………………………… 7
A.   Pengertian         …………………………………………………… 7
B.   Macam – macam Pembawaan & Lingkungan         ………… 8
C.   Faktor – faktor Pembawaan dan Lingkungan .................... 10
D.   Teori-teori Pembawaan dan Lingkungan  .......................... 12 
E.   Hubungan Individual dengan Lingkungan ......................... 13
F.    Peran Pembawaan & Lingkungan dalam Perkembangan..
G.   Cara Mengatasi Pembawaan yang Negatif .........................
BAB III PENUTUP              ..........…………………………………………… 7
A.   Kesimpulan       ………………………………………………….. 16
B.   Saran-saran       ………………………………………………….. 16
DAFTAR PUSTAKA           ………………………………………………….. 18


  
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Pernahkah terpikirkan mengapa setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain? Ada yang berpendapat bahwa sumber utama yang menimbulkan adanya perbedaan-perbedaan dari kepribadian setiap manusia disebabkan oleh tiga faktor, yaitu : faktor pembawaan (heriditas), faktor lingkungan (environtment) dan faktor struktur diri.
Pada dasarnya ciri-ciri pembawaan manusia yang essensial dari berbagai “ras” dan kelompok “etnis” adalah sama, tetapi sifat-sifat spesifik yang disembunyikannya pada masing-masing individu sangat bervariasi setiap individu pada saat konsepsi menerima warisan genetik dari kedua orang tuanya yang akan memberikan potensi bagi perkembangan dan tingkah lakunya sepanjang hidupnya.
Warisan genetik manusia yang khas adalah otaknya yang jauh lebih mampu dari spesies lainnya. Otak mampu menghasilkan suatu jaringan komunikasi yang luar biasa, disertai kemampuan dalam mengintegrasikan dan menyimpan pengalaman-pengalaman baru, melakukan penalaran, membayangkan dan melakukan pemecahan suatu masalah.
Seperti halnya dengan sifat-sifat konstitutional yang lain, setiap individu juga berbeda taraf kecerdasannya.
Melalui perbedaan konstitutional ini tampaknya pembawaan merupakan faktor penting yang memberi kelengkapan dasar pada individu untuk berkembang, akan tetapi pembentukan potensi yang sama dengan menyangkut persepsi, perasaan perpikir, bertindak tergantung pula pada lingkungan fisis dan lingkungan sosio-kultural.
Lingkungan sosio-kultural merupakan faktor yang sangat berperan dalam pembentukan tingkah laku manusia, setiap lingkungan sosio-kultural pada dasarnya heterogen[1], terdiri dari sub budaya, yang masing-masing mempunyai ciri dan sosialisasi yang khusus bagi anggotanya.
Soal pembawaan ini adalah soal yang sangat tidak mudah dan dengan demikian memerlukan penjelasan, dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan : perkembangan manusia tergantung pada pembawaan ataukah lingkungan atau dengan kata lain perkembangan anak muda hingga menjadi dewasa, faktor-faktor yang menentukan itu, kadang-kadang yang dibawa dari keturunan, pembawaan ataukah pengaruh-pengaruh lingkungan ada beberapa pendapat.
Tetapi perkembangan manusia itu bukan hasil belaka dari pembawaannya dan lingkungannya. Manusia itu tidak hanya diperkembangkan tetapi iya memperkembangkan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk.
Proses perkembangan manusia tidak hanya oleh faktor pembawaan yang telah ada pada orang itu dan faktor lingkungannya yang mempengaruhi orang itu. Aktivitas manusia itu sendiri dalam pekembangannya turut menentukan atau memainkan peranan juga.

B.   Identifikasi Masalah
            Untuk memperkaya wawasan dan pemahaman pembaca tentang pembawaan dan lingkungan, maka dapat disimpulkan beberapa pokok antara lain :
a)         Macam – macam pembawaan dan lingkungan
b)         Faktor – faktor Pembawaan dan Lingkungan
c)         Teori – Teori Pembawaan dan Lingkungan
C.   Rumusan Masalah
a)    Apa pengertian dari Pembawaan dan Lingkungan?
b)    Apa saja macam-macam dari Pembawaan dan Lingkungan?
c)    Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi Pembawaan dan Lingkungan?
d)    Teori-teori apa saja yang melandasi Pembawaan dan Lingkungan?
e)    Bagaimana hubungan antara Individu dan Lingkungan?
f)     Apa saja yang berperan penting dalam perkembangan individu?
g)    Bagaimana cara mengatasi pembawaan yang negatif? Dan Apakah egois merupakan faktor pembawaan!

  
BAB II
PEMBAWAAN DAN LINGKUNGAN

A.   Pengertian Pembawaan dan Lingkungan
1.        Pengertian Pembawaan
Agar lebih jelas lagi pengertian kita tentang keturunan dan bagaimana hubungannya atau adakah perbedaannya antara turunan dengan pembawaan, inilah uraiannya, dapat kita katakan bahwa yang dimaksud dengan pembawaan ialah semua kesanggupan-kesanggupan yang dapat diwujudkan.
Pembawaan atau bakat terkandung dalam sel-benih (kiem-cel), yaitu keseluruhan kemungkinan-kemungkinan yang ditentukan oleh keturunan, inilah yang dalam arti terbatas kita namakan pembawaan (aanleg).
Di muka telah dikatakan bahwa pembawaan ialah seluruh kemungkinan yang terkandung dalam sel-benih yang akan berkembang mencapai perwujudannya.
Pembawaan (yang dibawa anak sejak lahir) adalah potensi-potensi yang aktif dan pasif, yang akan terus berkembang hingga mencapai perwujudannya.
2.        Pengertian Lingkungan
Dalam ilmu psikologi, lingkungan disebut dengan environment (Milieu)[2]. Jadi bukan surrounding yang berarti keadaan sekeliling saja. Karena kata environment mencakup semua faktor di luar diri manusia yang mempunyai arti bagi dirinya, dalam arti memungkinkan untuk memberikan reaksi pada diri manusia tersebut. Jadi antara kita (manusia) dan lingkungan terjadi interaksi yang terus menerus.
Lingkungan (environment) ialah meliputi semua kondisi-kondisi dalam dunia ini yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life process[3] kita kecuali gen-gen.

B.   Macam-macam Pembawaan dan Lingkungan
1.    Pembawaan
Beberapa macam pembawaan adalah sebagai berikut:
a.    Pembawaan Jenis
Tiap-tiap manusia biasa diwaktu lainnya telah memiliki pembawaan jenis, yaitu jenis manusia. Bentuk badannya, anggota-anggota tubuhnya, intelijensinya, ingatannya dan sebagainya semua itu menunjukkan ciri-ciri yang khas, dan berbeda dengan jenis-jenis makhluk lain.
b.    Pembawaan Ras
Dalam jenis manusia pada umumnya masih terdapat lagi bermacam-macam perbedaan yang juga termasuk pembawaan keturunan, yaitu pembawaan keturunan mengenai ras.
c.    Pembawaan Jenis Kelamin
Setiap manusia yang normal sejak lahir telah membawa pembawaan jenis kelamin masing-masing.
d.    Pembawaan Perseorangan
Tiap orang (individu) memiliki pembawaan yang bersifat individual (pembawaan perseorangan) yang tipikal, banyak ditentukan oleh pembawaan ras, pembawaan jenis dan pembawaan kelamin.
·         Konstitusi tubuh : termasuk didalamnya : motorik, seperti sikap badan, sikap berjalan, air muka, gerakan bicara.
·         Cara bekerja alat-alat indra : ada orang yang lebih menyukai beberapa jenis perangsang tertentu yang mirip dengan kesukaan yang dimiliki oleh ayah atau ibunya.
·         Sifat-sifat ingatan dan kesanggupan belajar.
·         Tipe-tipe perhatian, intelijensi kosien (IQ) serta tipe-tipe intelijensi.
·         Cara-cara berlangsungnya emosi-emosi yang khas.
·         Tempo dan ritme perkembangan
2.  Lingkungan (Environment)
Macam-macam lingkungan dan bagaimana individu berinteraksi dengan lingkungannya.
Lingkungan dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
a.    Lingkungan fisik (physical environment)
Yaitu lingkungan / segala sesuatu di sekitar kita yang berupa benda mati, misalnya: rumah, kendaraan, udara, air dan sebagainya.
b.    Lingkungan biologis
Yaitu lingkungan yang berupa makhluk hidup, lingkungan ini dibedakan menjadi 2, yaitu lingkungan tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hewan.
c.    Lingkungan abstrak
Semua hal yang abstrak juga bisa dimasukkan dalam lingkungan, jika hal tersebut telah menyatu dengan manusia. Termasuk semua hal yang abstrak, misalnya: pengetahuan, kesenian, kebudayaan, nilai kehidupan seperti aturan-aturan pergaulan, tata krama, sopan santun dan sebagainya[4].
Dan menurut Sertain lingkungan itu dapat dibagi menjadi 3 bagian sebagai berikut :
a)    Lingkungan alam/luar (eksternal or physical environment)
Ialah segala sesuatu yang ada dalam dunia ini yang bukan manusia, seperti; rumah, tumbuh-tumbuhan, air, iklim, hewan, dan sebagaisnya.
b)    Lingkungan dalam (internal environment),
Ialah segala sesuatu yang termasuk lingkungan luar/alam
c)    Lingkungan sosial/masyarakat (social environment)
Ialah semua orang/manusia lain yang mempengaruhi kita. Pengaruh lingkungan sosial itu ada yang kita terima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Pengaruh secara langsung, seperti dalam pergaulan sehari-hari dengan orang lain, dengan keluarga kita, teman-teman kita, kawan sekolah, sepekerjaan, dan sebagainya.
Yang tidak langsung, melalui radio dan televisi, dengan membaca buku-buku, majalah-majalah, surat-surat kabar, dan sebagainya, dan dengan berbagai cara yang lain.
Pada dasarnya jiwa manusia terdiri dari dua aspek, yaitu aspek kemampuan yang meliputi inteligensi dan bakat, sedangkan aspek kepribadian meliputi watak, sikap, sifat dan minat[5].
Faktor lingkungan yang paling berperan dalam pembentukan pribadi manusia adalah rumah, sekolah dan teman sebaya[6]

C.   FAKTOR – FAKTOR DALAM PEMBAWAAN DAN LINGKUNGAN
1.    Faktor Endogen
Faktor endogen ialah faktor atau sifat yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga saat dilahirkan. Jadi faktor endogen merupakan faktor keturunan atau faktor bawaan.  Sebagai faktor keturunan yang merupakan penlaran dari gen yang diturunkan, maka tidaklah mengherankan kalau faktor endogen yang dibawa oleh individu itu mempunyai sifat-sifat seperti orang tuanya. Ini berarti bahwa keadaan atau sifat-sifat dari anak itu tidak meninggalkan sifat-sifat dari orang tuanya.
Kita mengenal bahwa faktor-faktor endogen yang nampak pada saat individu itu dilahirkan, adalah adanya sifat-sifat tertentu yang berhubungan dengan faktor kejasmanian, misalnya warna kulit, warna dan jenis rambut, rupa wajah, golongan darah, dan sebagainya. Faktor pembawaan yang berhubungan dengan keadaan jasmani pada umumnya tidak dapat diubah begitu saja, dan merupakan faktor dasar dalam ciri fisik individu.
Disamping itu individu juga mempunyai sifat-sifat pembawaan psikologik yang erat hubungannya dengan keadaan jasmani yaitu temperamen. Temperamen merupakan sifat-sifat pembawaan yang erat hubungannya dengan struktur kejasmanian seseorang, yang berhubungan dengan fungsi-fungsi fisiologik seperti darah, kelenjar-kelenjar, cairan-cairan lain, yang terdapat dalam diri manusia. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak merupakan keseluruhan dari sifat seseorang yang nampak dalam perbuatannya sehari-hari, sebagai hasil bawaan maupun lingkungan. Temperamen pada umumnya bersifat konstan, sedangkan watak atau karakter lebih bersifat tidak konstan, dapat berubah-ubah sesuai dengan pengaruh lingkungan.
Selain itu individu masih mempunyai sifat-sifat pembawaan yang berupa bakat (aptitude). Bakat bukanlah sesuatu yang telah jadi dan terbentuk pada pada waktu individu dilahirkan, tetapi baru merupakan potensi-potensi saja. Supaya potensi tersebut teraktualisasikan dibutuhkan kesempatan untuk mengaktualisasikan bakat-bakat tersebut. Disinilah dukungan lingkungan  yang baik diperlukan dalam perkembangan individu.
2.    Faktor Eksogen
Faktor eksogen ialah faktor yang datang dari luar diri individu, merupakan pengalaman-pengalaman, kejadian alam sekitar, pendidikan, dan sebagainya. Umumnya pengaruh lingkungan bersifat pasif dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan pengaruhnya secara paksa kepada individu. Lingkungan hanya menyediakan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu. Apakah individu mengambil manfaat dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tersebut atau tidak tergantung kepada individu yang bersangkutan. Lain halnya dengan pendidikan yang bersifat aktif, penuh tanggung jawab, dan secara sistematik.

D.   Teori –Teori  Pembawaan dan Lingkungan
1.    Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa segala perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Pendidikan tidak bisa mengubah sifat-sifat pembawaan. Salah satu perbedaan dasar individu adalah latar belakang hereditas masing-masing individu. Hereditas dapat diartikan sebagai pewaris atau pemindah biologis, karakteristik individu dari pihak orang tuanya.
2.    Aliran Empirisme
Aliran ini mempunyai pendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa, itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya. Sejak atau oleh pendidik dan pengalamannya sejak kecil, manusia dapat dididik apa saja/kearah yang lebih yang baik maupun kearah yang buruk.
Aliran teori ini dalam lapangan pendidikan menimbulkan pandangan yang otomistis yang memandang bahwa pendidikan merupakan usaha yang cukup mampu untuk membentuk pribadi manusia. Teori ini sering disebut dengan “Tabularasa[7]” yang memandang bahwa keturunan itu mempunyai peranan.
3.    Hukum Konvergensi
      Hukum ini berasal dari ahli psikologi bangsa Jerman bernama William Stern[8]. Ia berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia, dari dua buah faktor perkembangan dan lingkungan. Kedua hal tersebut itu kita renungkan benar-benar, belum tepatlah kiranya hal itu diperuntukkan bagi perkembangan manusia, hasil dari proses alam, yaitu pembawaan dan lingkungan belaka.

E.   Hubungan Individu Dengan Lingkungan
Kepribadian adalah organisasi dinamis daripada sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas).
Dari rumusan / definisi tersebut jelas bahwa kepribadian manusia tidak dapat dirumuskan sebagai suatu keseluruhan atau kesatuan individu saja, tanpa sekaligus meletakkan hubungannya dengan lingkungannya.
Seperti yang dikemukakan dalam teori konvergensi bahwa lingkungan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu. Lingkungan disini secara umum dapat dibedakan :
1.    Lingkungan fisik, yaitu lingkungan alam, misalnya keadaan tanah, iklim, musim dan sebagainya. Perbedaan lingkungan alam dimana individu berada akan memberikan perbedaan pengaruh pula terhadap perkembangan individu. Sebagai misal daerah pantai, pegunungan ataupun pedalaman akan memberikan pengaruh berbeda kepada individu. Begitu pula dengan daerah dua musim atau empat musim akan memberikan pengaruh berbeda pada individu.
2.    Lingkungan sosial, yaitu merupakan lingkungan masyarakat, dimana terjadi interaksi antara individu yang satu dengan yang lain. Kondisi masyarakat ini juga akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan individu. Lingkungan sosial dapat dibedakan :
a.    Lingkungan sosial primer, yaitu lingkungan sosial dimana terdapat hubungan yang erat antara anggota yang satu dengan anggota yang lain, antar anggota saling mengenal dengan baik, dan memiliki hubungan yang erat. Sehingga pengaruh lingkungan sosial primer ini akan lebih kuat.
b.    Lingkungan sosial sekunder, yaitu lingkungan sosial dimana hubungan antara anggota yang satu dengan anggota yang lain agak longgar. Pada umumnya antar anggota kurang atau tidak saling kenal dengan baik. Karena itu pengaruh lingkungan sosial sekunder ini tidak kuat.
Pengaruh lingkungan sosial baik lingkungan sosial primer maupun sekunder sangat kompleks dalam perkembangan individu. Disamping itu hubungan antara individu dengan lingkungannya merupakan hubungan yang saling timbal balik, yaitu lingkungan dapat mempengaruhi individu, dan sebaliknya  individu juga dapat mempengaruhi lingkungan.
Menurut Woodworth[9], cara-cara individu itu berhubungan dengan lingkungannya dapat dibedakan menjadi 4 macam :
1.    Individu bertentangan dengan lingkungannya,
2.    Individu menggunakan lingkungannya,
3.   Individu berpartisipasi dengan lingkungannya, dan
4.   Individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Individu itu senantiasa berusaha untuk “ menyesuaikan diri “ (dalam arti luas) dengan lingkungannya. Dalam arti yang luas menyesuaikan diri itu berarti :
1.    Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan (penyesuaian autoplastis)
2.    Mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri penyesuaian diri alloplastis.

F.    Peran Pembawaan dan Lingkungan Dalam Perkembangan
Dalam hal ini memang peran pembawaan dan lingkungan dalam perkembangan individu seseorang sangatlah penting sekali. Ada beberapa poin penting yang bisa kita jadikan acuan.
Berikut beberapa poin yang bisa mempengaruhi perkembangan individu:
1.    Faktor Pembawaan
a.    Intelijensi
b.    Sifat-sifat
c.    Kemampuan / bakat tertentu
d.    Bentuk Tubuh
2.    Faktor Lingkungan
a.    Lingkungan Keluarga
b.    Lingkungan Sekolah
c.    Lingkungan Masyarakat
d.    Keadaan Alam Sekitar

G.   Cara Mengatasi Pembawaan Yang Negatif
Selama ini pembawaan yang negatif merupakan faktor yang sangat penting dan sulit diatasi. Dalam hal ini yang pertama adalah peran individu sangat dibutuhkan sekali untuk merubah faktor pembawaan ini. Kita harus bisa selalu introspeksi diri, agar bisa berjalan kearah yang positif. Yang kedua adalah peran orang tua dan keluarga yang maksimal sangat dibutuhkan sekali. Yang ketiga adalah ketika seorang individu dan orangtua sudah sangat maksimal sekali namun tetap tidak bisa merubah pembawaan tersebut, masyarakatlah yang harus berperan optimal untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Dan jangan hanya mengucilkan individu tersebut. Dan yang terakhir adalah memperdalam pengetahuan tentang sifat-sifat yang positif dan negatif.
Ada sebuah pertanyaan dari beberapa audien bahwa apakah egois merupakan faktor pembawaan? Dan bagaimana cara meredam egoisme tersebut!
Egois dalam hal ini bisa dikatakan faktor pembawaan bisa juga dikatakan faktor lingkungan. Orang tua yang yang sifatnya selalu egois bisa saja nantinya melahirkan keturunan yang sifat-sifatnya diwariskan kepada anaknya. Egois dikatakan faktor lingkungan karena faktor dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat juga bisa bisa memunculkan sifat egoisme tersebut. Lingkungan yang keras mempunyai peranan yang penting dalam sifat egoisme tersebut.
Ada beberapa car mengatasi sifat egoisme tersebut :
1.    Individu harus berlatih sabar
2.    Lebih mementingkan kewajiban daripada hak
3.    Selalu berfikir logis
4.    Selalu introspeksi diri
5.    Banyak membaca buku tentang motivasi dan pengembangan diri





 BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
            Bahwa semua yang berkembang dalam diri suatu individu ditentukan oleh pembawaan dan juga oleh lingkungannya.
            Di dalam aliran Nativisme berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Pendidikan tidak dapat mengubah sifat pembawaan. Kemudian di dalam aliran Empirisme berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor lingkungan. Namun, di dalam aliran Konvergensi berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor pembawaan dan lingkungan.
Seperti yang dikemukakan dalam teori Konvergensi bahwa lingkungan mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu. Dan lingkungan dapat dibedakan menjadi Lingkungan fisik dan Lingkungan sosial.
            Selain itu pembawaan dan lingkungan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor Endogen dan faktor Eksogen. Faktor endogen ialah sifat yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga saat dilahirkan. Jadi faktor endogen merupakan faktor keturunan atau faktor bawaan. Dan faktor eksogen ialah faktor yang datang dari luar diri individu, yaitu berupa pengalaman-pengalaman, kejadian alam sekitar, pendidikan, dan sebagainya.

B.   Saran
            Faktor pembawaan dan lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan manusia. Sifat, intelijensi dan bakat atau potensi-potensi individu yang dapat memberikan perkembangan individu seseorang. Selain faktor pembawaan tersebut, lingkungan juga sangat mempengaruhi perkembangan. Orang tua hendaknya dari sejak dini mengenalkan lingkungan yang baik kepada anak-anak. Disebabkan, lingkungan sekarang ini ada juga yang kurang baik dan bisa berdampak negatif bagi perkembangan anak-anak. Dan ada baiknya pula, jika orang tua juga berperan dalam mengawasi perkembangan anaknya, karena sekarang ini ada juga orang tua yang kurang mengawasi anaknya dikarenakan sibuk bekerja.

  
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, H. Abu, Psikologi Umum. Semarang: Rineka Cipta, 1991
Syah Muhibbin, Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995.
Effendi Usman, Dkk, Pengantar Psikologi. Bandung: Angkasa, 1984.
Soemanto Wasty, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1990
5.Purwanto mangalin, Psikologi Pendidikan”. Jakarta: Bumi Angkasa, 1955
A.W. Wijaya, Drs., Individu, Keluarga dan Masyarakat, Akademika Pressindo, Jakarta, 1986.
Abu Ahmadi, Drs. H., dkk., Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1991.
Ahmad Tantowi, Psikologi Pendidikan, Angkasa, Jakarta, 1986.
Fuad Amsyari, Prinsip-Prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1986.
Samsi Haryanto, Dr., M.Pd., Pengantar Teori Pengukuran Kepribadian, Sebelas Maret University, Surakarta, 1994.
Singgih D. Gunarsa, Dr., Psikologi Untuk Membimbing, BPK Gunung Muria, Jakarta, 1992.


[1] Heterogen = terdiri dari unsur-unsur yang bukan dari jenis yang sama atau dari unsur yang berbeda
[2] Drs. H. Abu Ahmadi, dkk., Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1991, hlm. 64.
[3] Life Process : Proses kehidupan
[4] Fuad Amsyari, Prinsip-Prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan., hlm. 11.
[5] Dr. Samsi Haryanto, M.Pd., Pengantar Teori Pengukuran Kepribadian, Sebelas Maret University, Surakarta, 1994, hlm. 1.
[6] Dr. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk Membimbing, BPK Gunung Muria, Jakarta, 1992, hlm. 69.
[7] Tabula rasa (dari bahasa Latin kertas kosong) merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain "kosong", dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya.
[8] Wiiliam Stern : Seorang Ahli psikolog dan filsuf Jerman
[9] Fred Woodworth adalah seorang anarkis dan ateis penulis berbasis di Amerika Serikat.